menu
search

Ramah Lingkungan, Teknologi RAS Sukses Tingkatkan Produksi Benih Ikan Gurame

Senin, 20 Mei 2019 : 11.01
Teknologo Recirculation Aquacultural System (RAS) mampu meningkatkan produksi benih ikan gurame/humas kkp
Jakarta - Teknologi Recirculation Aquaculture System (RAS) yang dipergunakan untuk pendederan ikan gurame jika dibandingkan dengan sistem konvensional terbukti jauh lebih meningkatkan hasil produksi ikan gurame.

Teknologi RAS dapat meningkatkan padat tebar hingga 28 – 30 ekor per liter dari padat tebar sistem konvensional yang hanya 0,2 ekor per liter.

Untuk masa pemeliharaan benih juga relatif lebih pendek yaitu 30 hari telah mencapai ukuran 2 – 4 cm, dengan tingkat kelulusan hidup mencapai 95 persen, dan tingkat keseragaman ukuran hingga 90 persen.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto menjelaskan, dalam sistem konvensional, waktu pemeliharaan mencapai 50 hari, kelulusan hidup hanya 60 persen, dan keseragaman ukuran 80 persen.

"Produktivitas produksi dengan teknologi RAS naik hingga 140 kali lipat dibanding konvensional," tutur Slamet dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (17/5/2019).

Ia menjelaskan, teknologi RAS merupakan teknologi yang tepat dalam meningkatkan produktivitas pembenihan ikan dengan mengefisienkan penggunaan air dan lahan, di samping itu menciptakan usaha yang minim dampak negatif terhadap ekologi.

Dikatakan, tknologi RAS ini merupakan teknologi pembenihan ikan intensif yang dapat diterapkan untuk berbagai jenis komoditas baik tawar, payau, maupun laut, sehingga nantinya dapat menjadi solusi mengatasi permasalahan kebutuhan benih ikan di seluruh Indonesia.

Keunggulan RAS dibandingkan sistem konvensional di antaranya aman dari pencemaran yang terjadi di luar lingkungan perairan sehingga sanitasi dan higienitasnya lebih terjaga serta ramah lingkungan.

Selain itu, juga mudah dalam pemeliharaan dan stabilitas kualitas air lebih terjaga serta penggunaan air lebih hemat.

“RAS harus terus dikembangkan untuk berbagai komoditas budidaya karena dapat mengendalikan hama dan penyakit, meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan, serta meningkatkan produktivitas sistem budidaya, sehingga pendapatan juga akan meningkat tajam,” sambungnya.

Salah satu keberhasilan implementasi teknologi RAS yaitu pada pembenihan ikan gurame yang dilakukan oleh Tim Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Tatelu KKP untuk mencukupi kebutuhan benih gurame di Provinsi Sulawesi Utara.

Sementara Kepala BPBAT Tatelu, Fernando J. Simanjuntak menyebutkan, penerapan RAS ini memang ditujukan untuk meningkatkan padat tebar benih, kelangsungan hidup, keseragaman, serta laju pertumbuhan sehingga terjadi peningkatan produktivitas.

Kata Feranando, secara teknis, komponen RAS yang digunakan terdiri dari wadah pemeliharaan, tabung filter, lampu UV, reservoir, dan heater (pengatur suhu), serta pompa air.

Filter akan berfungsi sebagai unit pembersihan dan perbaikan kualitas air, kemudian tempat berkembangnya bakteri pengurai amonik sisa pakan dan feses atau sisa metabolisme lainnya.

“Tabung filter dan UV terbagi atas 2 (dua) aitu 2 (dua) filter kimia yaitu 75 persen zeolit dan 25 persen arang aktif dan 1 (satu) filter biologi yaitu dengan penggunaan bioball,” ungkapnya.

Untuk wadah pemeliharaan benih, dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan telah terintergrasi dengan sistem resirkulasi. Sedangkan reservoir, heater, dan pompa air berada di luar wadah pemeliharaan ikan.

Secara ekonomi usaha pendederan ikan gurame dengan teknologi RAS sangat menguntungkan. Dengan biaya investasi untuk wadah pemeliharaan berupa container plastik ukuran 47 cm x 65 cm x 40 cm sebanyak 18 buah.

Kemudian pembelian rak besi, bak reservoir, tabung filter, media filter (zeolit dan arang aktif), pompa, lampu UV, dan heater membutuhkan biaya sebesar Rp33,6 juta, dengan biaya penyusutan per siklus (2 bulan) sebesar Rp1,2 juta.

Sedangkan untuk operasional sebesar Rp14 juta per siklus untuk pembelian telur gurame, cacing sutera, obat-obatan, dan biaya listrik.

Telur gurame yang ditebar sebanyak 30.000 telur menghasilkan produksi benih gurame ukuran 2 – 4 cm sebanyak 25.500 ekor per siklus. Jika harga per ekornya adalah Rp2.000, maka penghasilan setiap kali siklus adalah Rp51 juta.

“Keuntungan per siklus sebesar Rp34,5 juta selama 2 bulan, sedangkan keuntungan setahun mencapai Rp207 juta. Ini sangat menguntungkan secara ekonomi karena pay back periode (waktu pengembalian modal) hanya ± 0,7 tahun,” sebut Fernando.

Pendapatan pembenihan gurame berteknologi RAS mampu mencapai Rp49.000 per liter air dalam wadah budidaya sedangkan konvensional hanya Rp317 atau meningkat rata-rata sebesar 155 kali lipat. Hal ini dimungkinkan karena padat tebar dengan teknologi RAS jauh lebih tinggi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi RAS pada pembenihan ikan terbukti jauh lebih efisien dalam penggunaan air dan lahan dibandingkan sistem konvensional. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua