Putus Rantai Penularan HIV, Koster: Stop Stigma dan Diskriminatif ODHA

Sabtu, 25 Mei 2019 : 01.30
Denpasar - Gubernur Bali Wayan Koster meminta di kalangan warga masyarakat tidak muncul stigma dan diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) berikut keluarganya sebagai upaya untuk memutus mata rantai penularan penyakit HIV.

Sikap empati pada ODHA harus ditunjukkan secara tulus, sehingga mereka dapat lebih kooperatif dalam bermasyarakat.

"Implikasi dari sikap positif ini akan dapat memutus rantai penularan dan ODHA beserta keluarganya dapat menjalani kehidupan normal di tengah masyarakat," ucap Koster dalam sambutan tertulis dibacakan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) pada acara Malam Perenungan AIDS Nusantara (MRAN) Provinsi Bali, di Wantilan DPRD Provinsi Bali, Jumat (24/5/2019) malam.

Implikasi dari sikap positif warga masyarakat akan dapat memutus mata rantai penularan, sekaligus dapat membuat ODHA beserta keluarganya untuk mampu menjalani kehidupan normal di tengah masyarakat.

Berbagai upaya penanggulangan HIV/AIDS secara masif terus dilakukan oleh pemerintah dengan menggandeng stake holder terkait.

Saat ini pusat-pusat layanan testing HIV sudah dioperasikan di seluruh rumah sakit pemerintah dan puskesmas di Bali secara gratis, serta dilayani oleh tenaga medis, perawat maupun dokter terlatih di bidang HIV/AIDS.

Demikian pula halnya terapi HIV dengan obat anti-retroviral (ARV), sudah disiapkan sebagai tindak lanjut pascates yang dilakukan. ARV jangan dijadikan excuse untuk melakukan seks bebas. ARV tidak membunuh virus, tapi hanya menekan populasi, sehingga virus masih berpotensi menular pada orang lain.

Koster juga mengingatkan, tantangan ke depan sesungguhnya tentang bagaimana upaya melindungi generasi muda dari ancaman HIV/AIDS, mengingat 80% HIV menginfeksi usia produktif.

"Yang terpenting adalah jauhi faktor resikonya seperti seks bebas, penggunaan narkoba, bukan malah menjauhi penderitanya," kata Gubernur yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Bali itu.

Perlakuan yang sama kepada para ODHA dan jangan mendiskriminasikan mereka di masyarakat. Mereka berhak atas perlakuan yang sama di tengah masyarakat, tanpa diskriminasi.

"Saya optimis kita akan bisa menyetop epidemi HIV/AIDS jika kita konsisten melaksanakan komitmen dan tepati janji 'STOP AIDS'," demikian Koster.

Ketua TP PKK Provinsi Bali Ni Putu Putri Suastini Koster, menambahkan, faktor resiko penularan virus HIV/AIDS yang harus dihindari oleh masyarakat, bukan menghindari pergaulan dengan para ODHA, terlebih bagi keluarga mereka.

Untuk itu, Putri Koster meminta agar stigma dan diskriminasi terhadap ODHA dihentikan, sebaliknya edukasi ke tengah masyarakat terkait faktor resiko penularan virus HIV/AIDS, harus semakin gencar dilakukan.

Dengan demikian, lanjut seniman nasional tersebut, pada gilirannya akan terbangun kesadaran, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. (riz)

Rekomendasi