menu
search

Putri Koster Ajak Masyarakat Stop Stigma Negatif Diskriminasi ODHA

Jumat, 24 Mei 2019 : 00.00
Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali Ni Putu Suastini Koster
Denpasar - Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Ni Putu Putri Suastini Koster mengajak masyarakat berhenti memberikan stigma negatif dan diskriminatif terhadap Orang Dengan HIV/ AIDS (ODHA).

"Sebab mereka juga mempunyai hak yang sama dengan masyarakat lainnya sebagai warga negara," kata Putri dalam acara Diskusi Publik “Mengintensifkan Upaya Mendapatkan Hak Asasi bagi Pengidap HIV/AIDS (ODHA)” dalam rangka Peringatan Malam Perenungan AIDS Nusantara (MRAN), yang bertempat di ruang rapat Praja Sabha, Denpasar, Kamis (23/5/2019).

Para ODHA, bukanlah monster yang harus ditakuti, mereka hanya sakit karena kekebalan tubuh mereka hilang.

"Jadi bagaimana caranya agar masyarakat bisa membuka diri dengan mereka, dan mereka juga bisa terbuka mengatakan jika mereka sakit AIDS seperti penderita penyakit lainnya bisa bilang, saya lho kena kanker, dan lainnya,” tegas dia.

Dalam mencari masalah, sama seperti pohon, jika daunnya kuning dan batang layu harus dicari akarnya untuk menghijaukan pohon itu kembali. “Nah sama seperti kasus ini, jangan ODHA-nya yang dipermasalahkan, tapi bagaimana kesadaran dan sikap kita, menjauhi perilaku yang berpotensi kena penyakit itu,” imbuhnya.

Putri mencontohkan, hubungan seks bebas dan pergaulan yang dekat dengan obat-obatan terlarang menggunakan jarum suntik berpotensi menyebabkan masyarakat terjangkit virus HIV/AIDS.

“Maka perilaku itu yang kita hindari, jangan malah kita kucilkan terus para ODHA-nya,” katanya mengingatkan. Bahkan untuk cakupan lebih luas, ia pun menganjurkan pemerintah dan para dokter bersinergi agar bisa menemukan obat menyembuhkan penyakit itu.

Setiap tahun, bukan hanya bicara data, statistik atau bahkan seremonial untuk para pengidap HIV, namun melakukan tindakan nyata untuk stop pertumbuhan penyakit mematikan itu. "Karena saya yakin Tuhan tidak akan mengirim penyakit tanpa obatnya,” tegasnya.

Sebelumnya oleh Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati bahwa angka pengidap HIV AIDS di Bali dari tahun 1987 sejak pertama kali ditemukan cukup fantastis yaitu 21.018 dengan temuan berkisar 100-120 kasus per bulan.

Estimasi nasional dari Kemenkes RI dinyatakan, populasi risiko tinggi di Bali mencapai 26.000 orang. Jika temuan riil kasus ini dibagi estimasi nasional, cakupannya sudah mencapai 81%. Hal ini bisa diasumsikan bahwa minat masyarakat Bali untuk tes HIV sangatlah tinggi.

"Jika diuraikan lebih jauh, maka temuan kasus sekitar 2-4 orang perhari baik tes secara sukarela, maupun tes wajib,” jelasnya. Untuk itu ia mengajak semua pihak bersinergi mengurangi bahkan menghentikan masalah ini.

“Mulai dari pemerintah, amsyarakat, LSM hingga akademisi kita bahu-membahu agar pertumbuhan kasus bisa kita hentikan,” imbuhnya. Mengacu data Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Cok Ace menambahkan puncak kasus terjadi di tahun 2015 yaitu sebanyak 2.529 terus mengalami penurunan menjadi 2.174 di tahun 2018.

Hal itu sejalan laporan Yayasan Kerti Praja menyebutkan bahwa telah terjadi penurunan kasus sebesar 9,3% . “Kita boleh berbangga, bahwa kita sudah bekerja pada track yang benar dan ini merupakan prestasi yang patut saya hargai.

Satu hal yang tidak boleh diabaikan dalam penanggulangan AIDS, menciptakan lingkungan yang kondusif agar pelaksanaan penanggulangan HIV/AIDS dapat berjalan secara harmonis dan produktif (rhm)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua