menu
search

Pupuk Kaltim Pastikan Pasokan dan Distribusi dalam Wujudkan Ketahanan Pangan

Jumat, 03 Mei 2019 : 17.48
Sosialisasi pengetahuan produk dan media tour tahap kedua PT Pupuk Katim di Bali
Badung - PT Pupuk Kalimantan Timur (Kaltim) terus mengembangkan produk berkualitas tinggi guna memenuhi kebutuhan petani untuk meningkatkan hasil produksi pertanian dalam membantu mewujudkan ketahanan pangan di Tanah Air.

Sesuai amanat penugasan pemerintah, dalam penyaluran distribusi pupuk bersubdisi, Pupuk Kaltim, terus berupaya dalam menjalankan tugas di wilayah kerjanya, di sebagian Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Papua.

Melalui produk andalan yakni pupuk urea dan NPK, telah mampu menjangkau ke seluruh jalur distribusi hingga sampai ke petani di Tanah Air.

Dalam kerangka untuk lebih mengenalkan produk-produknya ke masyarakat, digelar Sosialisasi Product Knowledge dan Media Tour ke-2 di Hotel Aston, Kuta, Badung, Bali Jumat (3/5/2019).

Turut hadir, Staf Direktorat SDM dan Umum Bidang Change Manajemen PT Pupuk Kaltim Sunaryo Broto, Account Executive wilayah Bali Mukri, Manajer Humas Wahyudi Manajer dan Bambang Setyo selaku Staf Pelayanan dan dan Komuniksi Produk.

Dalam kesempatan itu, Staf Pelayanan dan dan Komuniksi Produk Bambang Setyo menegaskan komitmen Pupuk Kaltim dalam mewujudkan ketahanan pangan agar bisa berlangsung, termasuk di Bali.

Disebutkan, Pupuk Kaltim yang berpusat di Bontang, Kalimantan Timur itu, mampu memproduksi pupuk hingga 3,4 juta ton pada tahun 2018 dimana 1,3 juta ton diantaranya untuk disalurkan sebagai pupuk bersubdisi.

"Stok pupuk kami sangat mencukupi dan semua pupuk yang.bersubsidi telah disalurkan dengan baik," imbuh Bambang.

Bagi perusahaan di bawah anak Pupuk Indonesia yang sejak tahun 1977 beroperasi itu, produk-produk yang dihasilkan, untuk memenuhi kebutuhan subdisi bagi petani baik tanaman pangan juga distribusi pupuk non subdisi maupun melayani kebutuhan ekpsor ke beberapa negara tujuan hingga Amerika Serikat.

Sementara, untuk produk NPK seperti Pelangi, Pupuk Kaltim mampu memproduksi 350 ribu ton pertahun. Bambang menambahkan, selain memproduksi pupuk kimia, Pupuk Kaltim tengah melakukan riset dan pengembangan pupuk hayati yang disebut Biotara.

Diharapkan, ke depan, pupuk hayati tersebut bisa mendapat respon pasar dan memenuhi kebutuhan akan pupuk organik bagi tanaman pertanian dan perkebunan.

Dengan kapasitas produksi Pupuk Kaltim yang mencapai 3,4 juta ton lebih itu, sesuai penugasan pemerintah untuk penyaluran pupuk subsidi, setelah terpenuhi baru sisanya untuk memenuhi kebutuhan pupuk non subdisi dan ekspor.

Di pihak lain, Account Executive Pupuk Kaltim Wilayah Bali Mukri menambahkan, salah satu area distribusi pupuk perusahaan BUMN itu, adalah di Pulau Bali. Sebagai provinsi yang memiliki lahan pertanian dan perkebunan dan jumlah petani yang cukup banyak, juga menggantungkan kepada pupuk urea dan NPK dari Pupuk Kaltim.

"Alhamdulillah, untuk di Bali, tidak ada masalah distribusi pupuk, semua tercukupi, tidak sampai terjadi kelangkaan pupuk," terangnya. Untuk kebutuhan pupuk bersubdisi, tercatat sebanyak 31 ribu ton telah disalurkan pada tahun 2018.

Dalam membantu menyalurkan Pupuk Kaltim, untuk Bali telah memiliki 9 gudang penyangga dan 7 distributor dan 167 kios yang tersebar di 9 Kabupaten dan Kota. Disebutkan, stok pupuk sampai bulan April ini yang tersimpan di gudang, sebanyak sebanyak 10.988 ton.

"Untuk tahun 2019 sampai bulan Mei ini, serapan pupuk sebesar 2 ribu ton, sekarang sudah datang merapat ke pelabuhan lagi sebanyak 3 ribu ton, jadi sangat mencukupi untuk kebutuhan pupuk beberapa bulan ke depan," imbuh Mukri.

Dengan demikian, penyaluran pupuk di Bali telah mencapai 99 persen dan dipastikan tidak sampai terjadi kelangkaan pupuk. Diakuinya, ada peningkatan akan permintaan pupuk, bukan karena kebutuhan meningkat tetapi karena lahan semakin menipis.

"Kami terus lalukan edukasi produk urea dan npk ke masyarakat luas," kata Mukri menambahkan.

Apalagi, lahan pertanian di Bali, setelah dilakukan upgrade, luasan penyaluran pupuk bersubdisi termasuk cukup baik, dengan jumlah 105 ribu petani sesuai data di Kementerian Pertanian. Jumlah lahan seluas 150 ribu hektar produktif itu, termasuk cukup besar untuk wilayah di luar Pulau Jawa. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua