menu
search

Puluhan Seniman Lintas Generasi Pamerkan Karya Kawitan di Bali

Kamis, 16 Mei 2019 : 10.15
Salah satu karya dalam pameran lintas generasi
Denpasar - Sebanyak 44 orang seniman dari lintas generasi memamerkan karya-karya terpilihnya dalam pameran yang bertajuk "Kawitan". Pameran berlangsug di Bentara Budaya Bali (BBB) bekerja sama dengan Damping Gallery, Ubud, Gianyar.

Seniman paling sepuh turut berpameran yakni I Wayan Tohjiwa (1916) hingga yang terkini seperti I Gde Ngurah Panji (1986), dan I Gede Pino (1985).

Selaras tajuk “Kawitan”, pameran ini berupaya merunut Kawitan (asal muasal) atau melacak jejak (tematik, stilistik dan estetik) yang mewarnai proses cipta seniman lintas zaman ini.

Pameran dibuka Jumat (17/5) pukul 18.30 WITA oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dr. I Wayan Adnyana.

Pameran mengedepankan pelukis-pelukis ragam tradisional atau klasik Bali berikut babakan young artist yang rekah dan bertumbuh di kawasan kultural Ubud, hakikatnya mencerminkan pula dinamika seni rupa sebelum dan sesudah era Pita Maha.

Seniman lainnya turut berpameran Ida Bagus Made Nadera (b. 1918), Dewa Putu Mokoh (b. 1936), I Wayan Asta (b. 1945), I Wayan Djujul (b. 1942), I Wayan Serati (b. 1939), I Nyoman Sinom (b. 1940), I Nyoman Tulus (b. 1941), I Nyoman Ridi (b. 1945), I Ketut Gelgel (b. 1944), I Ketut Ginarsa (b.1951), I Ketut Kicen (b. 1929), I Wayan Bendi (b. 1950), I Made Tubuh (b. 1941), I Gusti Agung Galuh (b. 1968), Pande Ketut Dolik (b. 1955), I Made Rasna (b. (b. 1964), I Wayan Rapet (b. 1941), I Wayan Jumu (b. 1959), I Nyoman Rupa (b. 1959), Dewa Sugi (b.1970), Ida Bagus Sena (b. 1966), Gusti Putu Joni (b. 1950), I Wayan Sukarta (b. 1956), I Made Madra (b. 1960), I Nyoman Manggih (b. 1941), I Nyoman Suarsa (b. 1945), I Wayan Gandera, I Ketut Kebut, I Ketut Roji (b. 1943), I Ketut Madri (b. 1943), I Made Suryana (b.1976), I Ketut Sadia (b. 1966), I Wayan Diana (b. 1977), I Made Sunarta (b. 1980), I Made Warjana (b. 1985), I Wayan Wijaya (b. 1984), I Wayan Suardika (b. 1984), I Nyoman Winaya (b.1983), Gusti Ayu Natih Arimini (b.1976), I Gusti Agung Kepakisan (b. 1974), dan I Gusti Agung Wiranata (b. 1970).

Karya-karya yang dipamerkan kali ini merupakan koleksi Damping Gallery. Didirikan pada tahun 2006 oleh seorang arsitek, Wayan Sutarma, Damping Gallery telah banyak memfasilitasi para seniman seni lukis tradisional melalui komunitas agar bisa terus berkarya dan menjaga kesinambungan generasi pelukis gaya Ubud yang kian langka.

Kepala Pengelola BBB, Warih Wisatsana mengungkapkan bahwa memang sedini awal masa kolonial, bahkan jauh sebelum itu, masyarakat Bali telah mengalami sentuhan globalisasi dengan beragam determinasinya.

“Dengan kata lain, dunia seni rupa Bali hakikatnya memiliki determinasi sejarahnya sendiri, yang terbukti telah “meng-ada” jauh sebelum dibaca sebagai bagian dari sejarah seni rupa Indonesia,” ungkap Warih.

Melalui pilihan tematik atau ragam ikonik tertentu khas Bali terbaca upaya para kreator mengolah ikon-ikon yang hidup dalam masyarakat Bali menjadi wujud rupa yang menggambarkan capaian estetik masing-masing yang otentik.

Suatu kreasi modern yang mengandung kekuatan ekspresi terpilih, di mana ikonografi Bali direvisi atau dikreasi sedemikian rupa melampaui kebakuan bentuk lukisan Bali tradisional.

"Karya-karya para seniman ini, baik para pendahulu maupun generasi yang lebih kini, mencirikan adanya pergulatan menyeluruh menyikapi secara kreatif tematik, stilistik sekaligus estetik," demikian Warih. (riz)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua