menu
search

Jaring Wisatawan, Kemenpar Dorong Pengembangan Desa Wisata Catur di Bali

Senin, 27 Mei 2019 : 20.45
Kemenpar dan Unidra melakukan pendampingan masyarakat untuk pengembangan Desa Wisata Catur di Kabupaten Bangli
Bangli - Dengan potensi sumber daya alam yang cukup indah dan keunikan masyarakatnya menjadikan Desa Catur di Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli sangat tepat untuk dikembangkan menjadi desa wisata baru di Bali.

Karenanya, Kementerian Pariwisata mendorong, Desa Catur menjadi desa wisata baru sehingga bisa menarik minat wisatawan untuk datang.

Kepala Sub Bidang Kemitraan Usaha Masyarakat Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Asisten Deputi Pengembangan SDM Pariwisata dam Hubungan Antar Lembaga Kementerian Pariwisata Rulyta Marsuri Rachmaesa, menyatakan, dalam pengembangan desa wisata ini, melibatkan kalangan kampus.

"Kami melibatkan kampus atau universitas, karena kegiatan ini merupakan implementasi dari kerja sama antara Kemenpar, Kemendes dan perguruan tinggi di seluruh Indonesia," jelas Rulyta saat memberi sambutan pada Seminar Pengembangan Desa Wisata melalui pemdampingan dalam rangka fasilitasi pelatihan desa wisata di Balai Pertemuan Banjar Lampu, Desa Catur, Bangli, Selasa (27/5/2019).

Kegiatan itu sejalan dengan apa yang menjadi tujuan Perguruan tinggi, di mana ada program pengembangan masyarakat atau pengabdian masyarakat, sehingga diharapkan bisa sinergis dengan yang ada, untuk desa wisata dan pelatihan SDM.

"Karena Kebetulan kami di SDM dan hubungan antar lembaga, memberikan pelatihan, sama dengan pendampingan kampus sekitar 2 sampai 3 bulanm sampai desa ini, benar-benar siap untuk menjadi desa wisata," tegas Rulyta.

Salah satu rumah penduduk di Desa Catur, Kintamani, Bangli yang telah disulap menjadi homestay untuk wisatawan yang bermalam di daerah berhawa sejuk itu
Dengan pendampingan untuk peningkatan kapasitas SDM masyarakat, mereka bisa membuat paket-paket wisata menarik yang siap menerima kunjungan wisatawan termasuk untuk kunjungan anak-anak SD atau field trip, tour wisata alam dan lainnya.

Untuk saat ini, program yang menyasar desa-desa itu, melibatkan 10 perguruan tinggi, dua di Bali, satu diantaranya Universitas Dhyana Pura (undira). Undira kemudian mengusulan Desa Catur, untuk program pendampingan desa wisata.

Jadi, desa mana yang akan mereka bina untuk dijadikan desa wisata, desa binaan wisata, kemudian diusulkan untuk dilakukan pendampingan dari Kemenpar.

Pihaknya telah melakukan perjanjian kerja sama dengan kalangan kampus dalam program ini, seperti dengan Jayapura, Kupang, Riau dan Banten. Ia menegaskan, kegiatan ini pelatih pelatihan fasilitasi pelatihan masyarakat desa ini dilakukan dari awal sampai dengan pertengahan Juli tahun 2019.

"Saya yakin, jika semua pihak bisa bekerja sama, maka desa wisata Catur ini, menjadi salah satu tujuan wisata alternatif di Provinsi Bali, yang kita tahu kebanyakan umumnya adalah wisata pantai," tuturnya.

Rulyta mengaku kagum dengan Desa catur yang merupakan salah sat tempat indah di Bali. Hal ini, merupaan keunikan tersendiri bagi Desa catur bisa untuk dikembangkan lagi di masa mendatang.

Desa berhawa sejuk ini, memiliki potensi cukup besar seperti perkebunan kopi, jeruk dan produk herbal yang bisa menjadi alternatif wisata alam. Desa Catur bisa terus dikembangkan sebagai desa wisata, dengan menyediakan berbagai aktivitas bagi wisatawan dalam dan luar negeri.

"Saya setuju dengan apa yang disampaikan Kepala Dea Catur, bahwa wisatawan asing dan domestik, harusnya bisa lebih mengenal Desa Catur, kalau Bali dikenal, pantainya, maka saya yakin wisata desa Catur dengan gunung dan alamnya yang indah akan semaikin dikenal wisatawan domestik hingga mancanegara," imbuhnya.

Untuk itu. dalam pengembangan desa wisata, semua potensi yang ada harus mampu bersinergi sebagaimana desa wisata di daerah lainnya di Tanah Air, di mana masyarakat, kelompok tani wanita, Pokdarwis, karang tarunabisa bekerjasama mwewjudkan cota-cita bersama.

"Saya harapkan, jika suatu saat berkesempatan datang ke sini, saya sudah melihat progres kemajuan desa wisata Catur, makin cantik, indah, banyak homestay, pusat oleh-oleh dan lainnya sehingga memberi kemanfaatan kesejahteraan masyatakatnya," harapnya.

Kepala Desa Catur Made Agus Antara mengaku bersyukur dan berterima kasih atas dukungan Kemenpar dan Undira yang melakukan pendampingan, sehingga masyarakat semakin meningkat SDM-nya dalam mengembangkan desa wisata.

Kini, semakin banyak masyarakat yang bergairah, tertarik membangun homestay, yang disewakan bagi wisatawan yang tengah berlibur di Kabupaten Bangli.

"Masyarakat kami, dengan pemdampingan Undira program sebelumnya tahun 2017, bisa memaksimalkan potensi produk herbal sehingga semakin dikenal pasar dan memberi kontribusi positif bagi kesejahteraan," sambungnya.

Pendampingan SDM bagi Masyarakat Desa Catur, Bangli yang dilakukan Kemenpar bekerjasama dengan kampus Undira, Bali
Dalam kesempatan sama, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LP2M) Undira Dr Ni Made Diana Erfiani menambahkan, sebenarnya, Desa Catur dipilih dalam program pendampingan SDM ini, karena sebenarnya Undira sudah hadir tahun 2017, yang membantu masyarakat dalam pengembangan tananam herbal.

"Kami mengajukan desa menjadi desa wisata, tentunya melewati kajian kira-kira desa mana yang bisa dibina, karena kami sudah pernah hadir di sini, kami berfikir desa Catur ini, bisa menjadi proyek percontohan, untuk pengembangan desa wisata," ungkap Diana.

Diana melanjutkan, dengan melihat potensi-potensi yang ada di Desa Catur, seperti tanaman herbal, kebun kopi dan jeruk, sangat mendukung untuk wisata ecotourism, sehingga bisa dikembangkan untuk tujuan wisata baru.

Adapun pendampingan yang diberikan, dengan melatih masyarakat, misalnya pengembangan homestay, pihaknya mengirimkan tenaga-tenaga Program Studi D4 Pengelolaan Perhotelan, guna membina masyarakat, bagaimana caranya menata homestay hingga memasarkan seperti memanfaatkan media sosial dan lainnya. (rhm)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua