Harga Tiket Pesawat Mahal, Garuda Diminta Lakukan Efisiensi

Kamis, 16 Mei 2019 : 11.59
ilustrasi
Jakarta - Mahalnya harga tiket pesawat hendaknya dijadikan bahan evaluasi bagi BUMN Garuda Indonesia untuk melakukan berbagai terobosan pembenahan seperti dengan langkah efisiensi.

Ekonom Konstitusi Defiyan Cori melihat, beberapa alasan dan penyebab yang disampaikan Direktur Utama Garuda Indonesia, seolah-olah mau berlepas tangan, atas permasalahan mahalnya tiket dan "menyalahkan" harga murah yang terjadi di masa lalu, membuktikan ketidakprofesoional pihak manajemen.

Lebih dari itu, pihak manajemen tidak memiliki rencana strategis dengan basis data yang kuat dan kredibel untuk melakukan proyeksi bagi masa depan.

"Mestinya, jajaran Direksi memiliki mempunyai terobosan (breakthrough) dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi," tukas alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini dalam perbincangan, Kamis (16/5/2019).

Padahal, banyak sekali cara dalam menyelesaikan masalah mahalnya tiket pesawat Garuda Indonesia dengan melakukan berbagai efisiensi pada pos-pos biaya variabel (variable cost) dan biaya overhead (overhead cost) tanpa mengurangi jasa pelayanan penuh (full service carrier).

Misalnya, gaji dan tunjangan para pilot Garuda Indonesia yang berjumlah 1.200 orang beserta kru kabin nya yang berjumlah 5.000 orang itu dapat diklaim sebagai biaya sangat tinggi dibandingkan dengan maskapai swasta lainnya.

"Beberapa pos biaya lainnya juga dapat dilakukan efisiensi seperti mengupayakan penghapusan pajak atas harga avtur yang selama ini dikeluhkan sangat mahal dan selalu menyalahkan pihak Pertamina," sambungnya.

Sekalipun pada 16 Februari 2019 Pertamina telah merevisi harga jual avtur tersebut menjadi lebih murah.

"Jika menggunakan basis data yang baik (historical data), maka pihak manajemen Garuda Indonesia juga dapat menerapkan konsep harga (pricing concept) berdasarkan hukum permintaan dan penawaran," katanya.

Dengan demikian, daerah tujuan yang memang penuh atau gemuk bisa saja harga jual tiketnya lebih mahal dibanding jalur yang sepi penumpang. Hal inilah yang tidak terjadi dalam konteks mahalnya harga tiket pesawat Garuda Indonesia, justru daerah tujuan yang sepi.

"Baik itu dimasa puncak (peak season) maupun dimasa rendah (low season) penumpang harga jualnya malah lebih mahal," demikian Defiyan. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru