menu
search

BNPT Ingatkan Masyarakat Waspadai Ancaman Terorisme dan Penyebaran Hoax

Kamis, 23 Mei 2019 : 19.30
Kepala Seksi Partisipasi Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Letkol Setio Pranowo
Denpasar - Ancaman terorisme dan penyebaran hoax harus menjadikan kewaspadaan masyarakat seiring membanjirnya informasi dan teknologi serta masih suburnya paham radikalisme.

Radikalisme dan Hoax, menjadi perhatian serius terlebih saat momentum Pemilu 2019, begitu banyak informasi hoaks yang menyesatkan dan memprovasi kelompok masyarakat hingga terjadi kerusuhan seperti di Jakarta.

Karena itu, bagaimana menangkal, menanggulangi masalah hoax maupun radikalisme menjadi perbincangan dalam Rembuk aparatur kelurahan dan desa tentang literasi informasi melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Bali, di Denpasar, Kamis (23/5/2019).

Salah satu pembicara dalam acara itu, Kepala Seksi Partisipasi Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Letkol Setio Pranowo mengatakan, lembaganya terus mengingatkan masyarakat tentang bahaya dan ancaman terorisme di Indonesia.

Menurutnya, aparatur di bawah memegang peran penting, dalam membentengi masyarakat dari pengaruh paham radikal yang menyulut lahirnya aksi teroris. Upaya pencegahan dilakukan dengan membangun sikap kepedulian dan awarness untuk mengenali tanda-tanda gerakan dan faham radikal.

Hal itu penting diketahui, mengingat, pola startegi dan gerakan paham radikal terus berkembang dan berubah sehingga harus diantisipasi dengan baik. Sejak bom Bali 2002 hingga bom di JW Marriott di Jakarta, pelaku-pelaku teroris, cenderung berubah termasuk target sasaran.

"Bahkan, kini pelaku teroris melibatkan keluarga, mengajak anak dan istri dalam melancarkan aksinya," sambung Setio. Selain mengenali gerakan radikalisme, sebagai langkah pencegahan dan antispasi masuknya terorisme, pihaknya juga melakukan upaya deradikalisasi.

Para pelaku terorisme yang sudah menjalani masa pemidanaan, dirangkul diberikan motivasi, agar kembali ke jalan yang benar, meninggalkkan paham radikal. "Bahkan kami juga mempertemukan pelaku teror dan korban untuk membangun komunikasi yang baik, memulai semangat hidup baru, bersama melawan radikalisme.

Kata dia, para teroris ini, jangan sampai dikucilkan di masyarakat setelah lepas dari penjara.

Kabid Media dan Hukum Forum Komunikasi Pencegahan Teroris (FKPT) Provinsi Bali Emanuel Dewata Oja dalam sambutannya menyebutkan, peserta terdiri dari aparat Kepala desa/lurah, babinkamtibmas, media dan mahasiswa.

"Kami mengundang peserta dari Babinkamtibmas sebagai garda terdepan agar nanti bisa mengedukasi masyarakat," katanya dalam kegiatan yang mengusung tagline saring sebelum saring di Sanur, Denpasar.

Keberadaan Babinkamtibmas (Polri)dan Babinsa (TNI), adalah aparatur pemerintah terbawah yang intens berinteraksi dengan masyarakat. Edo, sapaannya, edukasi yang dilakukan adalah agar masyarakat tidak terjebak atau menjadi korban informasi hoax.

"Karena teroris atau penganut paham radikal saat ini sering menggunakan media mainstream dan media sosial utk memprovokasi atau menyebarkan ajaran radikal," kata Pimred Klikpena.com itu.

Dia melanjutkan, media diharapkan benar-bener bisa menjadi bagian terpenting dari upaya memerangi hoax yang sering digunakan kalangan tertentu untuk menyebar paham radikal dan teroris.

"Media harus bisa membangun kepercayaan masyarakat bahwa media adalah sumber kebenaran informasi. Karena itu media harus menjadi cleaning house. Rumah pembersih informasi," tukas Ketua Perhimpunan Jurnalis Nusa Tenggara Timur (Pena NTT). (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua