Tuntutan Tak Maksimal, Pengacara Minta Penyerobot Tanah Disabilitas Dihukum Berat

Kamis, 18 April 2019 : 19.00
Kuasa hukum Made Somya Putra (kiri) dan penyandang disabilitas Dewa Nyoman Oka alias Dewa Koming 
Gianyar- Pihak kuasa hukum mewakili keluarga korban Dewa Nyoman Oka penyandang disabilitas dalam kasus dugaan penyerobotan tanah di Kabupaten Gianyar meminta agar pada terdakwa dihukum maksimal.

Jaksa Penuntut Umum Raka Arimbawa dalam perkara tindak pidana menggunakan Surat Palsu dan menempatkan Keterangan Palsu ke dalam Akta Otentik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 263 KUHP, menuntut dua terdakwa Dewa Ketut Oka Merta  dan Terdakwa I Dewa Nyoman Ngurah Swastika, 3,5 tahun penjara dalam Sidang Pidana Penyerobotan hak atas tanah penyandang disabilitas di PN Gianyat, Kamis (18/4/2019).

I Made Somya Putra selaku Kuasa hukum korban I Dewa Nyoman Oka alias Dewa Koming, sepakat dengan jaksa yang telah membuktikan dakwaann sebagai mana fakta persidangan telah terungkap bahwa perbuatan kedua Terdakwa telah memenuhi unsur-unsur tindak pidana.

Unsur pidana dimaksud menggunakan Surat Palsu dan menempatkan Keterangan Palsu ke dalam Akta Otentik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 263 KUHP ayat 1 dan 2 Jo. Pasal 88 KUHP.

Namun baik Korban I Dewa Nyoman Oka beserta segenap pihak keluarga sebenarnya masih kecewa atas tuntutan Jaksa Penuntut umum yang tidak menuntut Para Terdakwa secara maksimal.

"Kami menghargai tuntutan jaksa penuntut, sebagai upaya dan kinerja jaksa yang telah berusaha membuktikan dakwaannya karena kami mempercayakan hal tersebut kepada Jaksa Penuntut Umum yang telah kami saksikan bekerja seprofesional mungkin untuk membuktikan dakwaannya," tandas Somya.

Karena itulah, pihaknya menilai kedua terdakwa patut dihukum maksimal oleh majelis hakim.

Alasannya, hal-hal memberatkan kedua terdakwa sehingga patut dihukum maksimal, karena selalu berbelit-belit dalam memberikan keterangan di persidangan. Kedua terdakwa cenderung mempersulit proses pengungkapan fakta-fakta materiil di persidangan.

Selain itu, tidak pernah menyesali perbuatannya, justru berupaya melakukan rangkaian kebohongan dengan menggunakan dalil-dalil yang mengada-ada dengan melakukan gugatan perdata dengan maksud menghindar jeratan hukum.

Karenanya, perbuatan kedua terdakwa dinilai sistematis dan terstruktur yang dilakukan oleh seorang intelektual dengan cara memanfaatkan kondisi korban Dewa Nyoman Oka selaku penyandang disabilitas dan memanfaatkan kelemahan-kelemahan dalam pengajuan pensertifikatan tanah melalui program pertanahan nasional (Prona).

Para terdakwa tidak memiliki itikad baik, padahal pihak pelapor dan keluarga Dewa Nyoman Oka sudah berusaha mengambil jalan kekeluargaan.

Akibatnya, korban Dewa Oka mengalami kerugian materiil dan immateriil akibat disertifikatkannya tanah miliknya dengan cara membuat surat sporadik yang isinya Palsu.

Somya berharap Majelis Hakim yang menangani perkara ini, membuat tindakan progresif untuk sebuah keadilan dengan menghukum maksimal terhadap kedua terdakwa didasarkan pada pertimbangan tersebut.

"Kami percaya hati nurani Majelis Hakim Pengadilan negeri Gianyar dalam memutus perkara ini, namun kami tetap akan meminta pengawasan atau atensi dari mahkamah agung dan pengadilan tinggi terhadap kasus ini agar tidak terjadi manuver hukum yang menciderai hukum dan keadilan," tutupnya. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru