menu
search

Sipadu Mampu Tingkatkan Pendapatan Petani dan Lestarikan Sapi Bali

Selasa, 02 April 2019 : 08.44
Sistem Pertanian Terpadu (Sipadu) yang dikembangkan di Baturiti, Tabanan mendapat apresiasi Kementerian Pertanian
Tabanan - Sistem Pertanian Terpadu (Sipadu) yang dikembangkan di Bali seperti di Kabupaten Tabanan terbukti mampu meningkatkan pendapatan petani dan mendukung pelestarian sapi Bali.

Dalam kerangka melihat perkembangan Sipadu yang dilaksanakan di Simantri 356, Gapoktan Sari Buana, Desa Antapan, Kec. Baturiti, Kabupaten. Tabanan, mendapat kunjungan Asisten Deputi Ketahanan Pangan dan Sumber Daya Hayati Setio Sapto Nugroho serta Kepala Sub Bidang Perkebunan dan Peternakan Gito Kuncoro.

Turut mendampingi Kepala UPT Pertanian Terpadu Dr. I Wayan Sunada dalam kunjungan pada Kamis 28 Maret lalu.

Diketahui, Sipadu memiliki konsep dan tujuan untuk kesejahteraan kelompok. Selain itu, pelestarian sapi Bali. Terbukti Sipadu mampu meningkatkan pendapatan kelompok 2 kali lipat dari hasil pengolahan limbah ternak dan integrasi ke bidang pertanian secara luas.

Tampak perkembangan Sipadu 356 yang berdiri tahun 2013, menghasilkan anak sapi yang unggul dari hasil kawin IB kemudian pengolahan limbah padat maupun cair menjadi pupuk yang dapat digunakan langsung ke tanaman (tampak pertanian organik disekitar Sipadu 356).

Petani mampu mengurangi biaya dalam pembelian pupuk, dan terciptanya produk pertanian sehat karena menggunakan pupuk organik, harganya pun lebih mahal ketimbang produk dari perlakuan kimia.

Selain itu, jika stok pupuk berlebih, tidak jarang kelompok juga menjual pupuk tersebut ke masyarakat umum, sehingga dapat menambah pendapatan kelompok, jadi kelompok tidak hanya menunggu hasil penjualan dari anak sapi.

Kegiatan Sipadu juga dilengkapi instalasi biogas yang merupakan sumber energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan oleh kelompok untuk memasak, lampu, bahkan untuk tenaga listrik dengan genset khusus biogas.

Perkembangan kegiatan Sipadu 356 ini juga menjadi pelopor munculnya sipadu-sipadu mini oleh masyarakat sekitar (tuturnya).

Tidak hanya melihat pertanian organik disekitar areal Sipadu 356, mereka juga melihat budidaya ulat sutra yang sedang dikembangkan oleh kelompok. Ulat sutra yang dikembangkan oleh kelompok adalah jenis ulat "Samia Cynthia Ricini".

Dengan harga jual cukup tinggi yaitu Rp 100.000/kg nya dan juga pupa dari ulat memiliki protein yang tinggi sehingga dapat juga menambah pendapatan kelompok.

Sipadu 356 ini juga sering dikunjungi oleh tamu manca negara, sehingga kegiatan yang ada di Sipadu 356 dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan asing untuk berkunjung.

Kepala UPT Pertanian Terpadu Sunada, menuturkan, pihaknya mengembangkan kegiatan menjadi tempat agrowisata bagi wisatawan lokal maupun wisawatan asing.

"Wisatawan sambil melihat kegiatan pertanian organik, juga dapat menikmati jus sehat dari sayuran organik yang dibuat oleh Ibu-ibu KWT, sehingga hal ini juga dapat menambah pendapatan dari kelompok," sambungnya.

Asisten Deputi Ketahanan Pangan dan Sumber Daya Hayati Setio Sapto Nugroho serta Kepala Sub Bidang Perkebunan dan Peternakan menyampaikan apresias terhadap program Sipadu.

"Sipadu hanya ada di Bali dan satu-satu nya di Indonesia. Sehingga harapan ke depannya agar program Sipadu dapat diadopsi menjadi kegiatan pusat dan dapat diimplementasikan ke daerah-daerah lain," ujar Setio. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua