menu
search

Sambut Hari Kartini, Delapan Perempuan Seniman Pamerkan Karya di Bali

Selasa, 02 April 2019 : 08.25
Pengunjung menikmati karya seni rupa para seniman perempuan di ruang pamer Uma Seminyak, Kuta/foto:uma seminyak event
Denpasar - Delapan perempuan seniman memamerkan karya-karya seni rupa dengan beragam medium dan gaya dalam menyambut Hari Kartini dan Hari Perempuan Internasional.

Pameran dibuka sejak Minggu 31 Maret 2019 digelar, Futuwonder sebuah kolektif lintas disiplin di ruang pamer Uma Seminyak, Kuta. Pameran ini digagas sebagai bagian dari peringatan dan perayaan Hari Perempuan Internasional dan Hari Kartini.

Ajang ini, sebagai upaya emansipasi perempuan dan kesetaraan gender memiliki tantangan yang cukup besar dalam sistem sosial dan mentalitas masyarakat Indonesia yang patriarkis.

Muncul kesadaran perempuan dalam ranah seni rupa, untuk mengangkat isu-isu perempuan dalam karya mereka, karena seni bagi mereka bisa menjadi medium pergerakan.

Arahmaiani misalnya, secara tegas menyatakan, karya-karyanya merupakan bentuk kesadaran atas ketidakadilan gender yang dirasakan perempuan.

”Sesuai dengan kapasitas saya sebagai perempuan, demikian juga dalam memahami aspek kehidupan yang akan saya angkat dalam seni rupa, saya mencoba menyuarakan permasalahan dari golongan tertindas," katanya dalam keterangan tertulis diterima Kabarnusa.com, Senin (1/4/2019).

"Karenanya, dari itu permasalahan tersebut saya tampilkan dengan memakai metafora gender”.

Berbeda dengan pendapat Dolorosa Sinaga, seorang pematung dengan karya monumentalnya yang berjudul “Solidaritas”. Dia menggambarkan sekelompok perempuan berjajar saling menggamit tangan mereka dalam kebersamaan sebagai sebuah kekuatan.

Dari pengalamannya sebagai seniman dan aktivis, Dolorosa memaparkan, kendala medium seni rupa belum dilihat perempuan perupa di Indonesia sebagai alat ekspresi untuk tujuan tertentu kecuali sebagai media ekspresi pribadi.

Tidak bisa dipungkiri, hal tersebut disebabkan dalam praktik kesenian, perempuan masih berkutat dalam persoalan eksistensi.

Masyarakat dan ekosistem seni rupa kerap mempertanyakan profesi perempuan sebagai seniman karena dianggap kontra produktif dengan peran normatif mereka di lingkungan sosial dan keluarga sehingga berpengaruh juga dalam produktivitas mereka dalam menghasilkan karya seni maupun dalam memproduksi pemikiran.

Dalam pandangan kolektif Futuwonder, upaya menyelenggarakan pameran untuk perempuan dan secara lebih khusus mengangkat isu perempuan khususnya di Bali penting dikerjakan secara konsisten.

Disebutkan, permasalahan akses adalah perjuangan berkelanjutan, apalagi kenyataannya sebelum dan sesudah reformasi, partriarki masih dilanggengkan. Arah kebudayaan tidak selalu melesat maju, kadang mundur.

Putu Sridiniari salah satu peserta pameran dan anggota kolektif Futuwonder menuturkan, pameran Seni Rupa sering diadakan, namun cenderung komersial dan tidak ada terobosan-terobosan baru.

Pameran seperti Tanda Seru ini masih harus lebih sering diadakan untuk megakomodir diskursus-diskursus alternatif dan visual tandingan arus utama. "Pameran ini juga penting untuk membangun sikap konstruktif dalam berwacana khususnya bagi perempuan perupa,” ungkap Sridiniari.

Terkait isu perempuan dalam pameran ini, bisa jadi karya-karya yang hadir ini merupakan confessional, dan kemudian hadir sebagai teks atau narasi baru perempuan yang ditulis oleh perempuan, yang berbeda dengan cara perempuan dipandang dan dikonstruksi dalam budaya patriarki.

Kondisi itu, sulit menemukan jalan atas teks jika perempuan tidak saling bertukar cerita dan saling mendengar dalam kelompok.

Kata dia, selama perempuan terisolasi dari perempuan lain dan tidak dibiarkan untuk menawarkan gambaran paling personal dari kehidupannya, perempuan tidak akan menjadi bagian dari narasinya sendiri.

Ruth Onduko (community manager Uma Seminyak dan anggota kolektif Futuwonder) menuturkan, Narasi yang direpresentasikan para perempuan perupa Tanda Seru! cukup banyak muncul dari realitas yang mereka hadapi dalam lingkungan sosial yang berupa tekanan dan stigma yang dilekatkan terhadap tubuh perempuan, dan itu muncul dalam kekaryaan mereka.

Pameran Tanda Seru ini menghadirkan 8 perempuan perupa dengan latar belakang beragam, mereka adalah Aria Gita Indira, Citra Sasmita, Cristine Mandasari, Intan Kirana Sari, Irene Febry, Ni Luh Pangestu Widya Sari, Putu Sridiniari dan Santi Permana.

Karya mereka cukup beragam dari eksplorasi medium dan gaya. Ada yang menggunakan lukisan, kolase, rajut, sampai instalasi dengan figur-figur yang menampilkan sisi feminine tetapi juga memberi kesan dan pesan yang provokatif dan berani mengungkap permasalahan perempuan.

Dalam sebuah bidang kanvas tampak sosok perempuan telanjang dengan dua kepala dililit tali serupa kaktus berwarna merah.

Karya ini diberi judul “Potrait of the Others” karya Citra Sasmita. "Realitas sosial hari ini, telah menempatkan diri perempuan pada posisi sekunder, sehingga ketika mereka berupaya untuk membebaskan diri dari nilai-nilai yang membelenggunya tersebut, kerap dianggap sebagai pemberontakan dan menimbulkan gesekan sosial”, ungkap Citra.

Salah satu karya yang dipamerkan/foto:uma seminyak event
Ni Luh Pangestu Widya Sari seniman asal Mengwi Badung yang memainkan teknik printmaking melihat perempuan dapat menjadi agen perubahan melalui suaranya ketika ia memiliki kesempatan yang sama untuk didengar.

Karya Pangestu bertajuk “Mengunci Tubuh” itu, tampak laki-laki dikunci tubuhnya oleh beberapa perempuan.

“Saya ingin menyerukan agar perempuan yang mengalami kekerasan seksual dapat mempunyai kuasa atas tubuh, mampu mengendalikan tubuhnya agar tidak dilacuri, dan tidak menjadi terdakwa dalam setiap kasus kekerasan seksual,” jelas Pangestu.

Pameran Tanda Seru ini akhirnya menjadi sebuah narasi panjang tentang tubuh perempuan yang hingga saat ini masih terkekang hegemoni patriarki.

Karya-karya ke-8 perempuan perupa ini merupakan seruan atas tubuh yang tidak lagi ingin dinegasikan, diobjektifikasi, direduksi menjadi seonggok bagian tertentu yang disemenai oleh “budaya tradisional” kita.

Tubuh yang juga berhak mendapat perlakuan setara, seadil-adilnya atas dasar kemanusiaan. Adanya pameran semacam ini yang dikerjakan oleh perempuan masih cukup relevan dan penting baik di dunia seni rupa dan juga kehidupan kita.

Kiranya karya-karya perempuan perupa ini boleh menjadi renungan untuk memahami dan menghargai perempuan sebagai manusia seutuhnya.

Bagi penikmat seni dan masyarakat umum lainya, bisa melihat lebih jelas karya-karya mereka dalam pameran Tanda Seru di Uma Seminyak, Jl. Kayu Cendana No. 1, Seminyak, Kuta, Badung, Bali, berlangsung hingga 13 April 2019. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua