menu
search

Penyebaran Hoaks Tertinggi, Begini Cara Kaum Muda Aceh Menangkalnya

Selasa, 02 April 2019 : 07.25
Deputi V Kantor Staf Presiden Jaleswari Pramodhawardani dalam diskusi bertajuk "Anak Muda Aceh Menangkal Hoaksdi Banda Aceh/ksp
Banda Aceh - Provinsi Aceh dikategorikan sebagai salah satu daerah dengan penyebaran hoaks tertinggi sehingga peran kaum muda menjadi penting dalam menangkal kabar bohong itu melalui memperbanyak ruang publik dan interaksi pertukaran gagasan diantara mereka.

Pertemuan di berbagai ruang publik bisa menjadi solusi menangkal hoaks. Ruang perjumpaan ini menjadi tempat saling bertukar pikiran dan berbagi pengetahuan antar komunitas.

Bagi anak muda, ruang publik ini memiliki peran besar sebagai filter dari banyaknya informasi yang beredar.

“Anak muda harus terlibat,“ kata Deputi V Kantor Staf Presiden (KSP) Jaleswari Pramodhawardani, dalam diskusi bertajuk “Peran Anak Muda Aceh Menangkal Hoaks” di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, Senin 1 April 2019.

Untuk itu, Jaleswari berharap anak muda berperan dan memberi kontribusi pada masalah kebangsaan. KSP menggelar acara di Aceh karena menurut survei, Aceh merupakah salah satu daerah dengan tingkat penyebaran hoaks tertinggi.

Provinsi ini berada dalam di tiga besar penyebaran hoaks bersama Jawa Barat dan Banten. Survei ini dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Januari lalu. Diskusi berlangsung santai di kedai kopi itu berlangsung seru dan dihadiri puluhan anak muda.

Peserta antusias memberi masukan memecahkan masalah hoaks di Aceh. Seorang peserta diskusi dari komunitas Turun Tangan Aceh, Rizki sepakat memperbanyak ruang publik bagi anak muda.

“Bukan hanya di Aceh tetapi di seluruh Indonesia,” katanya. Setelah beridiskusi panjang, akhirnya anak muda sepakat merumuskan tiga solusi memerangi hoaks.

Pertama, anak muda sebagai individu maupun komunitas terlibat berkolaborasi dengan pemerintah maupun elemen masyarakat untuk mensosialisasikan bahaya hoaks. Mereka juga bisa memberikan pemahaman atau mengkampanyekan literasi digital.

Kedua, memperbanyak ruang-ruang perjumpaan antar komunitas. Kedai kopi bisa dijadikan ruang untuk saling bertemu, bertukar gagasan, dan melakukan cross-check satu sama lain. Melalui ruang perjuampaan ini, anak muda bisa terlibat aktif memfilter informasi yang berkembang di ruang publik.

Ketiga, memenuhi ruang publik, termasuk ruang publik digital dengan karya. Karya yang dihasilkan anak-anak muda akan menjadi narasi positif yang bisa mengalahkan maraknya berita palsu atau hoaks. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua