Pengguna Meningkat, Inovasi Produk Tembakau Dorong Pertumbuhan UMKM

Rabu, 24 April 2019 : 09.14
Ilustrasi/new york post
Jakarta – Semakin meningkatnya pengguna produk tembakau alternatif seperti vape mendorong pertumbuhan sektor Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang fokus pada pengembangan bisnis rokok elektrik seperti vape dan produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar (heat-not-burn).

"Inovasi teknologi pada produk tembakau alternatif memberikan efek positif bagi sektor ekonomi kreatif di Bali," tukas Ketua Asosiasi Vaporizer Bali (AVB), Gede Agus Mahardika kepada wartawan usai peluncuran Gerakan Bebas TAR dan Asap Rokok (GEBRAK!) beberapa hari lalu.

Dikatakan, UMKM, yang fokus pada pengembangan bisnis rokok elektrik seperti vape dan produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar (heat-not-burn), terus bertumbuh pesat karena didukung meningkatnya jumlah pengguna.

“Saat ini sudah ada 25 orang dengan menggunakan izin usaha UMKM di Bali,” sebut Mahardika. Saat ini, Mahardika mengklaim pengguna vape di Bali sudah mencapai 50 – 60 ribu orang. Diperkirakan jumlah pengguna produk tembakau alternatif, seperti vape pun terus meningkat.

Denpasar menduduki daerah pertama karena toko vape banyak ditemui. Kemudian disusul Badung, Tabanan, Gianyar, Karangasem, Negara, dan Buleleng.

Mahardika menjelaskan, pemerintah memiliki andil dalam perkembangan UMKM produk tembakau alternatif di Bali. Dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan 146/2017 yang mengatur tarif cukai Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) sebesar 57 persen memberikan kepastian hukum bagi pelaku usaha.

Menurut dia, peningkatan jumlah pengguna produk tembakau alternatif di Bali didorong karena sudah adanya kepastian hukum melalui penetapan cukai. "Sebelum adanya cukai, jumlah pengguna sempat menurun karena terdengar isu bahwa vape akan dilarang di Indonesia, tapi nyatanya kan tidak,” sambungnya.

Karena itu, dia optimistis industri produk tembakau alternatif akan terus berkembang, baik dari UMKM dan pengguna. Apalagi, Bali merupakan salah satu destinasi pariwisata domestik dan mancanegara. Dia membeber mayoritas pengguna 70 persen masyarakat Bali dan 30 persen asing.

"Wisatawan asing tertarik ingin mencoba likuid yang diproduksi di Bali sendiri,” sambungnya. Di pihak lain, Wakil Sekretaris Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bali, I G. N. Indra Andhika menyatakan dukungan terhadap keberadaan UMKM produk tembakau alternatif.

Pasalnya, prospek industri baru tersebut cukup besar. Sektor inovatif ini akan menjadi peluang usaha yang besar ke depan mengingat posisi Bali, yang sangat strategis di industri pariwisata nasional.

Tak hanya memfokuskan pada aspek bisnis, pelaku usaha juga perlu memberikan informasi kepada perokok dewasa dan masyarakat tentang produk tembakau alternatif yang memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah.

“Saya berharap peluang ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dan mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah,” harap Indra. Dikatakan, selain dukungan keberlangsungan usaha, kalangan pelaku usaha juga berharap pemerintah menyiapkan regulasi baru yang mencakup semua aspek produk tembakau alternatif.

Pasalnya, saat ini, peraturan yang dikenakan untuk produk tembakau alternatif masih disamakan dengan rokok. Padahal, produk ini juga memerlukan kepastian hukum dalam hal pemasaran, peringatan kesehatan, informasi produk, dan area pemakaian bagi konsumen untuk kelangsungan industrinya.

“Kami berharap pemerintah mulai menyiapkan regulasi khusus untuk produk tembakau alternatif dengan melibatkan instansi-instansi terkait dalam pembahasannya," imbuhnya.

Ketua Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), Aryo Andrianto menambahkan, lahirnya, regulasi tersebut, terpisah dari semua aturan rokok yang ada. "Karena Kemenkeu sendiri sudah membedakan kategori cukai produk HPTL dengan rokok,” demikian Aryo secara terpisah belum lama ini. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru