menu
search

Menteri Susi Ingatkan Ancaman Perang Pangan di Masa Depan

Rabu, 10 April 2019 : 23.09
Menteri Susi saat menyapa masyarakat Kota Santri, Tasikmalaya dan Kabupaten Tasikmalaya di tiga Pondok Pesantren (Ponpes), Rabu 10 April 2019.
Tasikmalaya - Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti mengingatkan ancaman perang pangan di masa mendatang yang harus diantisipasi oleh masyarakat Indonesia.

Susi didampingi Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dan Kepala Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM), Rina melanjutkan safari kampanye Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) dan Gerakan Masyarakat Sadar Mutu dan Karantina (Gemasatukata) di Provinsi Jawa Barat.

Pada kunjungan kali ini, Susi menyapa masyarakat Kota Santri, Tasikmalaya dan Kabupaten Tasikmalaya di tiga Pondok Pesantren (Ponpes), Rabu 10 April 2019.

Didampingi Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya Ivan Diksan, Menteri Susi beserta rombongan menyambangi Ponpes An Nur Jarnauziyyah. Di sana rombongan disambut oleh Pimpinan pesantren, KH. Aep Saefudin Ahmad.

Susi beserta rombongan juga menyerahkan bantuan berupa 1 ton ikan konsumsi, 12 lubang budidaya sistem bioflok, 100.000 ekor benih nila, dan 1 ton pakan mandiri.

Safari Gemarikan dan Gemasatukata dilanjutkan ke Ponpes Suryalaya, Kabupaten Tasikmalaya didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Tasikmalaya Iin Aminudin.

KKP menyerahkan bantuan 1 ton ikan konsumsi, 24 lubang budidaya sistem bioflok, 100.000 ekor benih ikan nila, dan 1 ton pakan mandiri secara simbolik kepada Pimpinan Pesantren, KH. Zainal Abidin Anwar.

Terakhir, rombongan mengunjungi Ponpes KH. Zainal Musthafa Sukamanah, Kabupaten Tasikmalaya dan disambut oleh Pimpinan Pesantren, KH. Acep Thohir Fuad. Di sana diserahkan 1 ton ikan konsumsi, 12 lubang budidaya sistem bioflok, 100.000 ekor benih ikan nila, dan 1 ton pakan mandiri.

Menteri Susi menyebutkan, ikan mackarel konsumsi sengaja diberikan agar para santri dan masyarakat dapat menikmati ikan laut yang jarang mereka konsumsi. Pasalnya, Kota dan Kabupaten Tasikmalaya tidak memiliki laut/pantai, sehingga biasanya mereka hanya mengonsumsi ikan air tawar hasil budidaya.

Dia menegaskan bahwa ikan air laut maupun ikan air tawar memiliki kandungan gizi yang sama-sama baik bagi tubuh. "Kandungan gizi ikan laut dan ikan air tawar sama saja. Tidak ada bedanya," cetus Menteri Susi.

Dalam sambutannya, Menteri Susi menjelaskan, populasi penduduk dunia yang terus mengalami peningkatan membuat seluruh bangsa menghadapi tantangan pemenuhan kebutuhan pangan.

"Bukan tidak mungkin akan terjadi krisis atau rawan pangan di masa mendatang," kata Susi mengingatkan. Ikan sebagai salah satu sumber pangan yang kaya kandungan gizi dan relatif lebih mudah didapatkan diprediksi akan menjadi rebutan.

Sebagaimana hasil penelitian organisasi pangan dunia FAO, satu dari lima ikan yang dikonsumsi di dunia saat ini berasal dari kegiatan illegal fishing. Sementara itu, negara penghasil ikan mulai menggunakan kekuatan militer untuk mengamankan sumber daya ikan mereka.

Di Indonesia sendiri, pada tahun 2017 untuk memenuhi kebutuhan pangan 265 juta warga negaranya dibutuhkan 12,6 juta ton ikan.

Asumsinya, laju pertumbuhan penduduk 0,6 persen dan angka konsumsi ikan 50 kg per kapita, diproyeksikan pada 2045 mendatang, untuk memenuhi kebutuhan 318 juta warga negara Indonesia dibutuhkan 15,9 juta ton ikan.

Oleh karena itu, tak hanya di laut, penangkapan ikan yang bertanggung jawab juga harus dilakukan di semua perairan, baik danau, sungai, embung, dan sebagainya. Untuk itu, Menteri Susi mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan penangkapan yang merusak dengan bom, portas, dinamit, setrum, dan sebagainya.

"Tuhan menganugerahi kita sumber daya ikan yang tidak usah susah-susah pelihara kok dirusak, diambil semena-mena?". Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak menangkap kepiting, rajungan, dan lobster bertelur dan di bawah ukuran (undersize) agar dapat berkembang biak di alam.

"Kalau adik-adik ke Pangandaran bisa lihat kapal terdampar, sebenarnya bukan terdampar tapi didamparkan sebagai monumen bukti kepada anak cucu kita, bagaimana kita menjaga kedaulatan laut."

Menteri Susi melanjutkan, setiap masyarakat Indonesia hendaklah tegas dan berani menjaga apa yang menjadi haknya tanpa takut pada kekuatan atau tekanan. Seperti yang dilakukannya dalam pemberantasan illegal fishing yang disebutnya tak jarang mendapat tantangan berbagai pihak. (rhm)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua