Kembangkan UMKM, Bupati Tabanan Libatkan Peran Serta Swasta

Kamis, 04 April 2019 : 17.50
Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti/dok.
Tabanan – Dalam pengembangan dan penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Pemerintah Kabupaten Tabanan terus mengundang peran serta kalangan swasta.

Kehadiran pihak swasta yang sudah mapan diyakini akan mempercepat penguatan kolaborasi dengan pengusaha UMKM. Bupati Tabanan, Ni Putu Eka Wiryastuti menjelaskan pengembangan UMKM tidak bisa dilakukan sendiri.

“Kami harus cari mitra swasta untuk bisa memperkenalkan bahwa kita punya UMKM yang siap,” katanya dalam keterangan resminya kepada wartawan, Kamis (4/4/2019).

Sensus ekonomi tahun 2016, menunjukkan jumlah UMKM di Provinsi Bali tercatat 481.853 unit. Dari jumlah tersebut, sebanyak 45.551 unit atau sekitar 9,45 persen berada di Kabupaten Tabanan. Adapun usaha skala besar di Tabanan berdasarkan sensus tersebut tercatat 28 unit.

Masih dari data tersebut, jumlah usaha di Tabanan berdasarkan skalanya adalah usaha mikro (40.132 unit), usaha kecil (4.831 unit), usaha menengah (588 unit), dan usaha besar (28 unit). Dengan demikian, UMKM menguasai 99,94 persen sektor perekonomian di Tabanan.

Pesatnya pengembangan UMKM di Tabanan telah menempatkan kabupaten ini sebagai salah satu wilayah terbaik dalam mengelola sektor ini.

Kabupaten Tabanan meraih penghargaan sebagai Pemerintah Daerah dengan Organisasi Perangkat Daerah Bidang Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah Terbaik tahun 2017 dari Kementerian Koperasi dan UKM.

Kini, geliat ekonomi kreatif membuat perkembangan UMKM tidak hanya fokus terhadap penguatan daya saing di bidang usaha makanan, kerajinan, dan sejenisnya.

Namun, perkembangan juga terjadi pada UMKM di bidang usaha inovatif yang tidak hanya menjawab kebutuhan pasar dan mengurangi tingkat pengangguran, tetapi juga dapat mengurangi risiko kesehatan di Tabanan.

Dari trend perkembangan UMKM inovatif yang saat ini berkembang adalah mereka yang menjual produk tembakau alternatif, seperti rokok elektrik.

Ketua Asosiasi Vaporizer Bali, Gede Maha sebelumnya menjelaskan sampai Oktober 2018, terdapat 58 anggota yang tergabung dalam asosiasi dan 18 orang distributor yang tersebar pada 72 titik di seluruh Bali. Adapun pengguna rokok elektrik di Bali secara keseluruhan mencapai 60 ribu orang.

"Jumlah tersebut kemungkinan akan terus bertambah seiring peningkatan permintaan terhadap produk ini," jelas Gede Maha. Pihaknya mengingatkan agar pemerintah memberikan perhatian serius terhadap fenomena tersebut.

Sejauh ini, rokok elektrik telah masuk ke dalam kategori Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL). Sejak 1 Oktober 2018, pemerintah efektif menerapkan tarif cukai rokok elektrik sebesar 57 persen.

Selama satu bulan sejak diberlakukan, penerimaan negara dari cukai rokok elektrik mencapai Rp 36 miliar. Pesatnya penjualan rokok elektrik di Bali membuat daerah ini menyumbang lebih dari Rp 11 miliar atau sepertiga dari penerimaan pita cukai vape secara nasional.

Kendati demikian, untuk pengembangan UMKM yang menjual produk tembakau alternatif di Tabanan, Bupati Eka mengaku belum melakukan kajian lebih mendalam sehingga belum menetapkan kebijakan lanjutan.

Menurutnya, saat ini, pengembangan produk tembakau alternatif sangat ditentukan permintaan pasar. Hal ini mengingat karakteristik masyarakat Tabanan yang berbeda dengan masyarakat kabupaten atau kota lainnya di Indonesia.

Potensi pengembangan produk tembakau alternatif di Tabanan belakangan tidak lepas dari sebagian penelitian yang menyebutkan bahwa hasil inovasi tersebut menghasilkan risiko kesehatan lebih rendah.

“Jadi sejauh ini pengembangan toko vape (rokok elektrik) masih dikembalikan ke pasar dulu,” demikian Eka. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru