menu
search

Inilah Sisi Religiusitas Menteri Susi Saat Bersilaturahmi dengan Santri di Tasikmalaya

Kamis, 11 April 2019 : 05.00
Menteri Susi saat menyapa masyarakat Kota Santri, Tasikmalaya dan Kabupaten Tasikmalaya di tiga Pondok Pesantren (Ponpes), Rabu 10 April 2019
Tasikmalaya - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti belakangan menunjukkan sisi-sisi religiusitasnya dengan sangat fasih berbicara hakekat makna hidup sebagaimana ditunjukkan saat bertemu ratusan santri di Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat.

Di sela lawatannya Menteri Susi menyampaikan pesan-pesan khusus kepada para santri tentang hakekat hidup termasuk keteguhannya dalam memegang prinsip.

"Tuhan yang memberi saya hidup, Tuhan pula yang boleh mengambil dan mengatur hidup saya," tuturnya saat menyapa masyarakat Kota Santri, Tasikmalaya dan Kabupaten Tasikmalaya di tiga Pondok Pesantren (Ponpes), Rabu 10 April 2019.

Didampingi Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya Ivan Diksan, Menteri Susi beserta rombongan menyambangi Ponpes An Nur Jarnauziyyah. Di sana rombongan disambut oleh Pimpinan pesantren, KH. Aep Saefudin Ahmad.

Susi melanjutkan, takut hanya kepada Tuhan dan kematian karena bisa datang kapan saja. "Mumpung kita hidup, selagi kita diberi Tuhan amanah, hidup ini gunakan sebaik-baiknya bagi kemaslahatan bangsa, terutama bagi saya yang merupakan pejabat negara," paparnya.

Kepada para santri, Menteri Susi berpesan untuk menjalani hidup dengan ikhlas meskipun hidup di Ponpes kadang banyak menemui keterbatasan atau hambatan. Menurutnya, keihklasan merupakan kunci untuk meraih kecukupan dari Tuhan.

"Begitu kita ikhlas, kita mendapatkan apa yang kita butuhkan. Hal itu terjadi pada diri saya. Hidup merdeka, mandiri, tidak bergantung pada siapa-siapa dalam membesarkan anak," kata perempuan asal Pangandaran ini.

Alhamdulillah, dia bisa mandiri tanpa perlu menjual integritas. Bisa hidup selalu merasa cukup dan yang paling penting selalu bahagia. "Itu rahasia Ilahi. Cukup kawan, cukup teman, cukup cinta dari orang-orang, dan cukup materi, Alhamdulillah," cerita Menteri Susi.

Ketulusan dan keikhlasan akan memberi manusia kebahagiaan karena kebahagiaan bukan hanya ditentukan seberapa banyak materi yang dimiliki, tetapi juga semangat dan tenaga yang mampu menghilangkan lelah dan keluh kesah.

Ia menilai, pendidikan agama yang diperoleh di Ponpes maupun instansi pendidikan formal dan non-formal lainnya, dapat menyelamatkan manusia dari pengaruh buruk globalisasi dan digitalisasi.

Manusia tidak dapat membendung globalisasi, namun dapat menyesuaikan diri dengan meningkatkan kapasitas dan kemampuan agar tidak kalah dengan digitalisasi. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua