menu
search

Dukung GNNT, Pasar Agung Peninjoan Aplikasikan e-Retribusi

Jumat, 12 April 2019 : 22.06
E-Retribusi, dilaunching dalam menyukseskan GNNT (Gerakan Nasional Non Tunai), oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali, bersama Pemkot Denpasar dan BPD Bali
Denpasar - Pasar Agung Peninjoan Denpasar kini mengaplikasikan e-Retribusi yakni sistem pembayaran non-tunai melalui pendebetan rekening (autodebet) tabungan pedagang.

Aplikasi tersebut dilaunching dalam menyukseskan GNNT (Gerakan Nasional Non Tunai), oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali, bersama Pemkot Denpasar dan BPD Bali, Jumat (12/4/2019).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Causa Iman Karana, menjelaskan, e-Retribusi pasar ini adalah cara pembayaran retribusi ataupun iuran / pungutan pasar secara non tunai melalui pendebetan rekening (autodebet) tabungan pedagang.

Kemudian, disetorkan ke rekening pengelola pasar serta dengan memanfaatkan teknologi QR Code untuk membantu proses absensinya.

“Adanya e-Retribusi Pasar, pedagang pasar akan memiliki rekening tabungan yang bebas biaya administrasi di Bank BPD Bali, sehingga program ini sekaligus meningkatkan keuangan inklusif,” jelas Iman.

Jika sebelumnya pelaksanaan dan pengelolaan retribusi pasar dilakukan secara tunai, maka sekarang diimplementasikan penerimaan retribusi pasar melalui pemrosesan pembayaran dengan cara non tunai.

Diungkapkan, cara pembayaran nontunai, menggunakan Quick Respon (QR) Code dengan source of fund dari tabungan atau Basic Saving Account (BSA). Dengan begitu, transaksi menjadi lebih praktis, efisien, cepat dan aman serta mewujudkan keuangan inklusif.

Diketahui, e-Retribusi ini merupakan bagian dari implementasi GNNT (Gerakan Nasional Non Tunai) dan Setrategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) serta Sura Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 910/1867/SJ tentang Implementasi Transaksi Non Tunai Pada Pemerintah Daerah Kabupater / kota.

Selain itu, e-Retribusi ini juga sejalan Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) yang diatur dalam PerPres RI No. 82 Tahun 2015 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif.

"Dengan demikian, program e-Retribusi ini seperti kata pepatah “Sekali Mendayung, Dua Tiga Pulau Terlampui,” sambungnya.

Pak Cik, sapaan alumnus Universitas Gadjah Mada itu menambahkan, transaksi non-tunai Pemda dan Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI), tidak hanya memerlukan keterlibatan Bank Indonesia sebagai Regulator Sistem Pembayaran, namun juga dukungan Kementrian Lembaga, Pemerintah Daerah, pelaku industri Sistem Pembayaran dan masyarakat.

“Bank Indonesia sebagai Otoritas dan fasilitator dalam pengembangan Sistem Pembayaran di Indonesia, bersyukur dapat turut ambil bagian dalam pengembangan elektronifikasi transaksi non tunai ini," ungkapnya.

Berbagai perbaikan proses dan kemudahan bagi masyarakat telah diupayakan bersama. Bank Indonesia terus menerus mendukung percepatan implementasi elektranifikasi pembayaran daerah,” imbuhnya.

Diharapkan, dengan launching e-Retribusi, secara berangsur-angsur dapat terbentuk suatu komunitas/masyarakat yang lebih menggunakan instrumen non tunai atau Less Cash Society.

Plt Direktur Utama BPD Bali, Nyoman Sudharma menambahkan, pihaknya mengimplementasiakn solusi pungutan pasar secara elektronik.Hal ini dilakukan sebagai upaya mendukung gerakan nasional non tunai (GNNT).

Untuk itu, BPD Bali me-launching e-Retribusi terkait elektronifikasi sistem pungutan pasar di Pasar Agung Peninjoan, Denpasar.

Layanan pungutan pasar online ini adalah satu bentuk dukungan Bank BPD, guna mempermudah pengeloaan administrasi dalam satu database sesuai arahan pemerintah Pemprov Bali dan KPK, sehingga mempermudah tata kelola administrasi pemerintah tanpa harus berinvestasi tinggi," katanya.

Dengan pola ‘one islands one solution’maka e-Retribusi dapat juga digunakan untuk seluruh kabupaten di Bali. “Tidak hanya sebatas mekanisme collection pungutan pasar saja, namun melalui e-Retribusi ini BPD Bali juga memberikan solusi administrasi,” jelasnya.

Tidak hanya mendukung GNNT, e-Retribusi juga mendorong inklusi keuangan melalui jaringan laku pandai Bank BPD Bali, terhadap UMKM khususnya pedagang pasar.

Melalui elektronifikasi pungutan retribusi pasar secara elektronik/online ini, diharapkan mampu mempercepat pelayanan yang akuntabel dan transparan. Termasuk diharapkan mampu menjadi salah satu komponen dari Denpasar Smart City melalui Smart Heritage Market.

Dalam layanan ini, petugas pasar melakukan proses pungutan pasar secara digitalisasi menggunakan QR. Layanan ini merupakan tahap permulaan dari sistem non tunai, yang dikembangkan Bank BPD Bali.

"Layanan e-Retribusi akan dikembangkan dalam bentuk digitalisasi sistem pembayaran dalam bentuk QR code untuk mempermudah dan mempercepat transaksi,” imbuhnya. (rhm)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua