BI Dorong Pengembangan Usaha Gula Semut di Bali Berorientasi Ekspor

Jumat, 26 April 2019 : 23.44
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Causa Iman Karana dalam perbincangan dengan media peserta Lokakarya Kebanksentralan di Yogyakarta 26-28 April 2019
Yogyakarta- Bank Indonesia terus mendorong kelompok usaha gula semut di Bali agar bisa berkembang sehingga bisa bersaing merebut pasar ekspor.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi
Causa Iman Karana mengungkapkan, sejumlah tantangan dihadapi ekonomi Bali antara lain tingginya ketergantungan ekonomi Bali pada bidang usaha pariwisata, turunnya kualitas wisman serta tingginya alih fungsi lahan.

"Pada saat ini hampir semua wilayah di Pulau Bali melakukan pembangunan yang berorientasi pada sektor wisata," ucap Iman dalam keterangan resminya di sela Lokakarya Kebanksentralan yang diikuti puluhan media di Yogyakarta 26-28 April 2019.

Orientasi masyarakat di Bali telah berubah dari yang semula merupakan masyarakat agraris dengan mata pencaharian sebagai petani menjadi masyarakat pelaku penyedia tempat wisata.

"KPwBI Provinsi Bali berupaya meningkatkan produksi dan kapasitas UMKM yang berpotensi ekspor atau berpotensi menunjang sektor pariwisata," sambung Iman.

Salah satunya adalah pengembangan gula semut di Jembrana dan desa wisata Tampaksiring.

Gula semut adalah gula merah versi bubuk dan sering pula disebut orang sebagai Gula Kristal. Dinamakan gula semut karena bentuk gula ini mirip rumah semut yang bersarang di tanah.

Bahan dasar untuk membuat gula semut adalah nira dari pohon Kelapa atau pohon aren. Keistimewaan gula semut adalah memiliki rasa dan aroma yang khas yang berasal dari bahan pembuatnya, yaitu nira.

Dibandingkan dengan gula cetak, pengolahan nira menjadi gula semut akan lebih menguntungkan  karena harga jual lebih tinggi dibandingkan dengan gula cetak, berbentuk serbuk sehingga lebih luwes pemakaiannya dibandingkan gula cetak dan lebih mudah penyimpannya serta memiliki umur simpan lebih lama.

Menurutnya, Industri gula semut atau gula merah bubuk di dalam negeri mampu menghasilkan produk yang diminati pasar internasional.

Meski pengolahannya masih banyak dilakukan secara konvensional, namun produk gula semut telah berhasil menembus pasar ekspor ke beberapa negara seperti Amerika, Eropa, Srilanka, Australia dan Jepang.

Pihaknya, mulai mengidentifikasi pengembangan gula semut di Desa Pendem, Jembrana. Kelompok Mawar Bali, terdiri dari petani gula kelapa sejumlah 20 orang yang berada di sekitar Bukit Mawar, Desa Pendem, Jembrana akan dibina oleh KPwBI Provinsi Bali untuk menghasilkan produk gula semut berkualitas ekspor.

Karenanya, petani gula kelapa tersebut diajak mengikuti kunjungan belajar ke Yogyakarta. Kunjungan belajar ke Yogyakarta selain untuk meningkatkan produksi, juga melihat  peluang pasar untuk ekspor.

Hasil ini diharapkan dapat berdampingan dengan hilirisasi produk coklat dan kopi.
 Selain gula semut, KPwBI Provinsi Bali juga akan mengembangkan Desa Wisata Tampaksiring.

Pemilihan Desa Tampaksiring mengingat lokasinya tidak jauh dengan Klaster Padi Pulagan yang merupakan binaan KPwBI Provinsi Bali.

Selain itu, Desa Tampaksiring juga memiliki objek wisata Pura Tirta Empul dan Istana Presiden. Tampaksiring mempunyai potensi seni, adat dan budaya yang masih kental.

Ditunjang dengan potensi sumber daya alam dan potensi kerajinan yang berkualitas ekspor, pengembangan Desa Wisata Tampaksiring akan dibuat terintegrasi dengan agrowisata Pulagan. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru