Belum Ada Fatwa Pusat, MUI Bali Dukung Gaya Hidup Hijau

Minggu, 14 April 2019 : 16.23
Denpasar - Meski belum ada fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat namun pengurus MUI Bali mendukung gaya hidup hijau yang ramah akan lingkungan.

Hal tersebut disampaikan KH Mustafid Amna,Lc, MA dari MUI Bali, kegiatan Talk Show Ramah Lingkungan bertema Masjid Ramah Lingkungan dan Kesehatan Keluarga, di Masjid Muhammad berlokasi Jalan Imam Bonjol No 335 Denpasar, Minggu 14 April 2019.

Kegiatan menghadirkan pembicara-pembicara ahli seperti KH Mustafid Amna,Lc, MA (MUI Bali), Ustadz Nur Asyur Konselor Keluarga, dr Fuad Adi Rosyadi (Praktisi Kesehatan), Muhammad Nur Sholeh (Manager Dompet Sosial Madani).

Kegiatan digelar dalam menyambut bulan suci Ramadhan yang digelar Lembaga Kemanusiaan Dompet Sosial Madani (DSM) dan Komunitas Sahabat Subuh Bali.

Menariknya, setiap jamaah yang hadir diberikan botol minuman isi ulang (tumbler) dan sajian jajan yang dibungkus oleh daun pisang. KH Mustafid memaparkan, menjaga lingkungan baik di rumah maupun di lingkungan pemukiman adalah ikhtiar nyata manusia.

Saat ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali melalui komisi lingkungan memiliki program gaya hidup hijau dengan membagikan bibit dau kelor ke masyarakat di daerah Singaraja.

MUI Bali mendukung masyarakat untuk bergaya hidup hijau kendati belum ada fatwa dari MUI Pusat. “MUI Bali hanya menghimbau dari perkumpulan pengajian dan Majelis Taklim untuk masyarakat bisa bergaya hidup hijau,” katanya menegaskan.

Ditanya pemanfaatan limbah air wudhu yang sudah dipakai untuk diolah seperti air bersih untuk digunakan kembali masyarakat. KH Mustafid berujar belum ada teknologi seperti itu.

“Teknologi seperti pengelolaan air limbah pemakaian wudhu menjadi air bersih belum ada. Mudah-mudahan ke depan ada. Limbah air wudhu saat ini kebanyakan digunakan untuk menyiran tanaman saja,” sambungnya.

Ustadz Asyur menungkapkan kriteria yang membuat hidup menjadi bahagia salah satunya adalah lingkungan yang baik. Lingkungan yang baik penunjang kehidupan.

Tidak akan bahagia jika tidak memiliki lingkungan yang baik. Sebentar lagi akan memasuki Bulan Ramadhan. Banyak ummat terlalu berlebih membeli makanan berbuka sehingga tidak seimbang jumlah anggota keluarga yang menyantap sajian berbuka puasa.

"Banyak sajian berbuka yang berlbihan hingga dibuang mubazzir dan akan menjasi sampah. Maka dari itu jangan berlebihan membeli sajian berbuka puasa dan menambah sampah untuk dibuang,” paparnya.

Sedangkan pembicara ketiga dr Fuad Adi Rosyadi mengajak para jamaah yang hadir untuk menjaga kebersihan keluarga melalui perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Pembicara terakhir, Muhammad Nur Soleh mengajak masyarakat memanfaatkan lingkungan dan gaya hidup hijau sekitar dengan menanam metode hidroponik.

Cara mengedukasi masyarakat lainnya untuk bergaya hidup hijau dan mengurangi limbah plastik yang membuat bahaya banjir adalah dengan kosep 3 AH ala DSM. Mencegah tindakan edukasi dan penyadaran akan bahaya yang ditimbukan dari limbah.

"Pilah dengan membawa botol minuman sendiri dan tidak membuang makanan yang berlebih dan terakhir Olah melalui penggunaan kembali bahan-bahan yang berpotensi menjadi limba seperti plastik,” imbuhnya. (des)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru