Tambang Bakal Habis, Menteri Susi: yang Masih Dimiliki Indonesia adalah Lautan

Sabtu, 09 Maret 2019 : 15.49
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam lawatan di Abu Dhabi/humas kkp
Abu Dhabi - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengingatkan sumber daya alam energi seperti tambang minyak, fosil semakin lama akan habis sehingga yang masih bisa dimiliki Indonesia adalah kekayaan laut.

Sebelum bertolak ke Indonesia, di hari terakhir kunjungan kerjanya di Abu Dhabi, Rabu (6/3) malam, Menteri Susi menyampaikan hal itu saat bertemu masyarakat Indonesia (diaspora) yang tinggal di Abu Dhabi.

Susi menegaskan, generasi muda memegang peranan penting untuk turut menjaga laut yang telah didaulat sebagai masa depan bangsa. Dalam 4 tahun terakhir, pemerintah telah memerangi illegal fishing dengan berbagai kebijakan, termasuk penenggelaman kapal pencuri ikan dan penataan perizinan kapal.

Kebijakan ini pun menurutnya telah membawa dampak luar biasa dengan meningkatnya stok ikan lestari (maximum sustainable yield/MSY) di perairan Indonesia.

Menurutnya, pencapaian ini tak akan bertahan lama jika generasi muda tak ikut mengawal kebijakan pemerintah dalam menjaga sumber daya ikan sebagai sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable resources).

“Tambang suatu saat akan habis, minyak dan fosil itu energi yang akan habis, kalau sudah kita ambil lama-lama akan habis. Dan itu pun sudah punya konsesi orang-orang. Jadi yang masih bisa dimiliki orang-orang Indonesia adalah lautan, tidak boleh dikavling-kavling, milik bangsa kita, seluruh rakyat Indonesia,” katanya menegaskan.

Sumber daya perikanan ini, sangat penting seiring dengan bertambahnya penduduk Indonesia yang membutuhkan semakin banyak bahan pangan khususnya sumber protein.

Perairan Indonesia juga perlu dijaga dengan baik karena telah menjadi jalur transportasi dan logistik barang, energi, kegiatan ekonomi, sosial, dan pertahanan dunia. Jadi, kedaulatan harus dijaga untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban baru ekonomi kemaritiman.

“Neraca perdagangan perikanan kita sudah menjadi yang pertama di Asia Tenggara. Ini prestasi yang harus terus dijaga. Jangan sampai kita lautnya kedua terbesar di dunia, tapi perikananya paling buntut di Asia Tenggara,” tandasnya.

Didampingi Duta Besar Republik Indonesia (RI) untuk Abu Dhabi, Husin Bagis dan Konsulat Jenderal RI untuk Dubai, Ridwan Hassan, Menteri Susi bersilaturrahmi dengan sekitar 200 warga Indonesia yang datang dari Abu Dhabi, Dubai, Al Ain, dan Ruwais di Wisma Kedutaan Besar RI Abu Dhabi.

Pada bagian lain, Menteri sempat membandingkan keadaan Indonesia dengan Uni Emirat Arab (UEA). Meskipun hanya negara kecil dengan perairan yang jauh lebih sedikit dibandingkan Indonesia, UEA mampu menjadi negara dengan populasi dugong kedua terbesar di dunia.

Hal ini berkat tekad kuat yang dimiliki negara tersebut untuk maju di tengah kekurangan yang dimilikinya. Betapa negara kecil seperti mereka memiliki determination (red-tekad) yang luar biasa.

Mereka memiliki keinginan yang kencang untuk membangun yang kecil ini bagaimana caranya menjadi besar dan terbesar. "Sekarang dugong (red-UEA) sudah menjadi yang kedua populasinya di dunia,” Menteri Susi mengapresiasi.

Ia menilai, oang-orang UEA ini luar biasa tekad dan keinginan untuk memperbaiki bagaimana mereka dengan segala cara menghijaukan gurun, membuat indah, building from nothing, just sand become very green, very nice.

Menteri Susi membandingkan dengan keadaan di Indonesia, di mana dugong masih diburu untuk dikonsumsi karena memiliki rasa daging yang lezat dan disebut-sebut mirip daging sapi. Padahal menurutnya, dugong merupakan satwa langka yang harus dilindungi.

Begitu pula dengan mangrove. Di Indonesia hutan bakau yang ditanam ditebang, diambil kayunya untuk membuat rumah, dijadikan kayu bakar, atau dijadikan arang untuk diekspor.

Pihaknya berharap, bangsa Indonesia dapat meniru tekad kuat yang dimiliki bangsa UEA. Menurutnya, Indonesia memiliki kemampuan yang tak kalah hebat dari bangsa UEA, namun tekadnya masih kurang.

“Saya kadang pikir determination masih kurang di orang kita. Terlalu sumeleh (red-pasrah), terlalu yo wes, opo ono ne cukup (ya sudah, apa adanya sudah cukup),” demikian Susi. (rhm)

Rekomendasi