menu
search

Semarak Pawai Ogoh-ogoh Sambut Hari Raya Nyepi di Bali

Kamis, 07 Maret 2019 : 10.24
Denpasar - Ribuan warga mendapat suguhan dengan pawai ogoh-ogoh yang digelar sehari sebelum Umat Hindu di Bali, Rabu 6 Maret 2019. Umat Hindu di Bali khususnya merayakan Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Caka 1941 pada Kamis 7 Maret 2019.

Ogoh-ogoh salah satu kearifan lokal, berupa karya seni yang terbuat dari anyaman bambu dihias menjadi sebuah bentuk yang sangat artistik. Bentuk Ogoh-Ogoh kebanyakan berukuran besar, sedang maupun minimalis.

Karakter Ogoh-Ogoh berasal dari cerita-cerita dalam Mitologi Dewa-Dewi Agama Hindu, cerita Mahabarata, dan yang paling banyak Ogoh-Ogoh bisa berwujud Bhutakala (Raksasa yang memiliki sifat jahat dan sangat menakutkan).

Kesenian Ogoh-Ogoh sudah sejak lama ada di Bali. Setiap Banjar (rukun warga) wajib membuat satu buah Ogoh-Ogoh diarak pada prosesi pengrupukan sebelum Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Caka.

Pawai dilakukan membawa Ogoh-Ogoh yang sudah dihias mengelililingi areal Desa, Kecamatan maupun Kota. Pawai Ogoh-Ogoh menjadi daya magnet warga lokal maupun wisatawan asing untuk menyaksikan kreasi karya seni pemuda-pemudi Bali.

Guna menambah kemeriahan tradisi kesenian ini beberapa daerah di Pulau Dewata membuat kompetisi perlombaan dalam pawai Ogoh-Ogoh.

Salah satu yang terpantau adalah perlombaan kompetisi pawai Ogoh-Ogoh yang berlangsung di Desa Tegal Kertha, Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar Rabu (6/3/2019) pukul 18.00 wita. Diangkat puluhan Ogoh-Ogoh penuh hiasan, diarak berkeliling dan disaksikan ribuan warga.

Beberapa ogoh-ogoh bergerak dengan ditambahkan mesin penggerak mengeluarkan cahaya dari kedua mata yang bersumber dari energi genset.Ogoh yang dibawa berkeliling ditempatkan diatas bilah bambu yang dibentuk bujur sangkar.

Kesenian Ogoh-Ogoh yang diperlombakkan tidak sekedar dibawa berkeliling saja. Pengunjung dapat menyaksikan beberapa pemuda menari dan ada seorang penduduk desa yang membacakan cerita sembari mengolah kata mengenai latar belakang karakter Ogoh-Ogoh dibuat.

Beberapa pemuda-pemudi menyalakan kembang api untuk mencuri perhatian pengunjung yang menyaksikan pawai Ogoh-ogoh.

Pemerintah melarang penggunaan Styrofoam sebagai bahan dasar untuk kampanye Go Green dan iringan musik yang membawa iringan pawai Ogoh-Ogoh dilarang menggunakan sound sistem dan musik modern.

Musik yang membawa iringan kesenian Ogoh-Ogoh harus murni dari Gamelan Bali. Ogoh-ogoh diarak keliling desa, kecamatan maupun kota untuk kemudian dibakar di setra (kuburan) sebagai simbol memusnahkan energi jahat di alam semesta. (rhm)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua