NasDem Desak Kepolisian Usut Penyebar Fitnah Kondom Bergambar Jokowi-Amin

Senin, 11 Maret 2019 : 06.21
Wasekjen Bidang Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan) DPP Partai NasDem Hermawi Taslim/istimewa
Jakarta - Partai NasDem mendesak kepolisian segera mengusut tuntas pelaku penyebar fitnah berupa foto kondom bergambar pasangan capres-cawapres pasangan 01, Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin.

Wakil Sekjen Bidang OKK (Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan) DPP Partai NasDem, Hermawi Taslim menyampaikan sikapnya itu, menanggapi beredarnya foto kondom bergambar paslon Jokowi-Amin via WhatsApp (WA) dan media sosial.

Pihaknya mengecam keras praktik-praktik biadab tanpa etika dalam kampanye dengan menyebarkan fitnah berupa foto kondom bergambar pasangan capres-cawapres pasangan 01, Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin.

Untuk itu, polisi diminta segera mengusut penyebaran foto tersebut karena sudah kelewat batas. Ia menyatakan keherananya, pasangan Jokowi-Amin selalu menjadi sasaran kampanye hitam dan tidak beretika.

"Penyebaran foto kondom tersebut pasti dilakukan secara sengaja untuk merusak citra Jokowi-Amin," tegas dia dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu 10 Maret 2019. Taslim menegaskan, tidak ada argumen lain kecuali bahwa penyebaran kondom itu sebuah bentuk pembusukan citra paslon Jokowi-Amin.

"Cara-cara biadab dan tidak beretika seperti itu tidak boleh ada toleransi sedikitpun. Harus dibasmi. Tidak boleh berkembang menjadi budaya politik di Indonesia," tandasnya. Wakil Direktur Hukum dan Advokasi Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo - KH Ma'ruf Amin ini juga menegaskan, NasDem mengecam sangat keras perilaku kampanye seperti itu.

"Kampanye model itu sudah tergolong hitam dan kotor dengan niat menjatuhkan lawan," tegas Taslim lagi. Lebih dari itu, praktik kampanye kotor semacam ini, tidak hanya merusak citra paslon nomor urut 01, tetapi lebih jauh berniat memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa dan negara Indonesia.

Kader NasDem ini melihat, bukan tidak mungkin cara-cara seperti itu akan membangkitkan fanatisme paslon kemudian masyarakat diadu domba dan pecah belah.

"NasDem berharap polisi harus sangat serius mengusut ini. Siapapun pelakunya harus dihukum. Kalau pun rakyat biasa,tetap harus diproses. Jangan sampai dimaafkan dengan alasan mereka hanya diperalat," sambung Taslim.

Pemilihan umum, baik pemilihan legislatif maupun pemilihan presiden mestinya merupakan wahana demokrasi yang bermoral, beretika dan sehat serta jauh dari praktik-praktik kebiadaban.

Momentum kampanye, khususnya kampanye pilpres, harus menjadi momentum pemaparan program, visi dan misi para kandidat agar publik mempunyai gambaran mengenai para calon pemimpin. Bukannya merusak sendi-sendi demokrasi dengan cara menyebarkan fitnah yang keji tidak bermoral seperti ini.

"Kita sungguh-sungguh mengecam bahkan mengutuk praktik seperti ini. Sudah melewati batas. Tidak beretika sama sekali. Karena itu penegakan hukum harus berjalan," katanya menegaskan.

Semua pihak diminta mentaati aturan hukum dan etika yang sesungguhnya di atas segalanya. Pertarungan, kontestasi tetap harus dalam bingkai aturan-aturan dan kaidah demokrasi. Jangan memberikan ruang kepada pihak ke tiga atau ke empat menciptakan air keruh untuk mengadu domba masyarakat.

Ditegaskan, semua pihak harus menjaga agar kontestasi ini berjalan di dalam koridor demokrasi dan aturan hukum. Sekali jika ada pihak-pihak bermain fitnah, menyebarkan hoax dan sejenisnya, pihak ke tiga atau ke empat akan dengan mudah menumpangnya.

Kondisi itu mengakibatkan, antar sesama anak bangsa bisa saling tuding, saling tuduh. Untuk itu, pihaknya meminta polisi secepatnya menyelidik penyebaran foto kondom tersebut dan membawanya ke meja hijau.

"Agar menjadi pelajaran bagi siapa saja bahwa setiap tindakan ada konsekwensi hukum. Jangan mudah disuruh-suruh dengan iming-iming tertentu," demikian Taslim. (rhm)

Rekomendasi