Merawat Tradisi Merajut Kehangatan Ala Alumni SMAN I Karangasem

Selasa, 12 Maret 2019 : 16.45
Temu alumni ankatan 1990 SMAN I Karangasem diisi dengan tradisi megibung atau makan bersama
Denpasar - Malam itu, Kantor DPW Partai NasDem Provinsi Bali tampak riuh dan semarak bukan karena ada hajatan politik namun ramai oleh kehadiran generasi "old" alumni SMAN 1 Karangasem yang tengah menggelar temu kangen.

Ya, pertemuan kali ini berbeda dari pertemuan sebelumnya, mengingat lokasi yang dipilih adalah kantor parpol di Jalan Tukad Batanghari, Denpasar. Meski demikian, tidak ada nuansa atau muatan kepentingan politik apapun.

"Kebetulan teman-teman mau datang ke Kantor NasDem, ya tentu saya senang sebagai tuan rumah," ucap Ketua DPW Partai NasDem Bali Ida Bagus Oka Gunastawa, Senin 11 Maret 2019 malam.

Sebagai alumni, Gunastawa mengaku bangga karena meski banyak diantara yang hadir memiliki kesibukan padat, bahkan ada yang menetap di Amerika Serikat, tetap menjalin hubungan dengan baik sampai saat ini.

Suasana penuh keakraban, cair, tidak ada sekat-sekat apapun dan kehangatan terasa saat mereka yang menapaki bangku SMA tahun 1990, menggelar reuni. Mereka saling berbagi cerita ringan, perjalanan hidup, dengan canda tawa, menandakan betapa tingginya memaknai persahabatan dan ikatan yang kuat sesama alumni.

Menariknya, kesan akrab dan merakyat begitu kuat dalam pertemuan kali ini, karena menyajikan tradisi Megibung, yang merupakan warisan leluhur Bali khususnya di Karangasem.

"Megibung kami bawa tradisi Karangasem untuk melestarikan warisan leluhur, saya pikir ini tradisi bagus, selain memupuk kebersamaan, penuh pesan mendalam melalui makan bersama dalam satu wadah tempat makan seperti ini," tutur Gunastawa.

Dijelaskan, melalui tradisi leluhur ini, bisa memberikan suasana keakraban tersendiri di tengah persaingan seperti sekarang ini. Mereka mau datang ke kantor partai, tentunya cukup bagus, tanpa sekat. Sebagai tuan rumah, Gunastawa sangat berterima kasih, mereka merasa nyaman.

"Intinya, megibung tradisi diwarisi berabad-abad lamanya di Karangasem, dahulu ketika terjadi perang penaklukan ke Lombok, pasukan setelah perang memilih untuk makan bersama," tutur caleg DPR RI Nomor Urut 1 Dapil Bali dari Partai NasDem ini.

Konon, kata megibung, diambil dari kata bagi dan buung. Bagi artinya membagi, buung berarti batal. Dengan kata lain, tadinya makanan hendak dibagi-bagi, urung dilakukan akhirnya makan bersama.

Ada juga yang mengartikan megibung, megabung atau bergabung, jadi ada beberapa versi. Tradisi megibung ini, juga mirip dengan makan bersama ala tradisi para santri di Pondok Pesantren seperti di Jawa.

Temu Kangen alumni SMAN I Karangasem digelar di Kantor DPW Partai NasDem Bali
Pada intinya, dalam makan bersama itu, terbangun suasana persaudaraan dan keakraban. Karena tidak ada sekat-sekat diantara yang makan bersama itu. Memang tidak semua orang bisa bergabung, makan bersama dengan cara-cara seperti itu. Semua makanan sayur dan lauk-lauk digabung jadi satu, ditaburkan di atas nasi dalam satu wadah nampan.

"Tetapi jika sudah pernah satu atau dua kali ikut megibung, orang akan ketagihan, karena nyaman orang ngobrol, dengan orang tua dan lainnya," imbuhnya.

Meskipun sejatinya, tradisi megibung itu, cukup ketat harus mematuhi tahapan. Misalnya, ada 100 paket, belum boleh mendahului mengambil makan tetapi harus menunggu sampai jumlahnya lengkap. Biasanya, dahulu 8 mengikuti arah mata angin.

Sekarang, menjadi enam sesuai filosofi yang cukup bagus. Saat sudah dipersilakan, maka serentak makan bersama demikian juga saat berhenti. Jika belum ada aba-aba berhenti, tidak boleh ada yang meninggalkan lokasi megibung.

Setelah megibung selesai dengan kuliner tradisional khas Bali, suasana bertambah larut ke masa tempo dulu, saat mereka masa muda dengan melantunkan tembang-tembang yang hits kala itu seperti Madu dan Racun Ari Wibowo hingga tembang-tembang slow rock Rod Steward. Acara dipungkasi dengan bernyanyi bersama lanjut berfoto bareng. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru