menu
search

Libatkan 421 Sukarelawan Indonesia, Relawan Bela Alam Dideklarasikan di Bali

Sabtu, 30 Maret 2019 : 02.00
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo dalam Deklarasi Relawan Bela Alam di Buleleng, Bali/BPBD Bali
Buleleng - Melibatkan 421 sukarelawan dari seluruh Indonesia akhirnya 'Relawan Bela Alam' resmi dideklarasikan di Buleleng, Bali. "Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita" merupakan jargon yang diangkat oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana pada awal tahun ini.

Merawat alam merupakan salah satu bentuk strategi dalam upaya mitigasi dalam menghadapi bencana. Latar belakang ini mendorong 421 sukarelawan dari seluruh Indonesia untuk mendeklarasikan ‘Relawan Bela Alam".

Bentuk deklarasi diwujudkan dalam pembacaan janji sukarelawan yang diikuti oleh semua sukarelawan yang hadir. Perwakilan sukarelawan Jawa Barat Soma membacakan janji dengan berfokus upaya penyelamatan alam sehingga kejadian bencana dapat dihindarkan.

“Menyikapi kondisi tersebut, kami relawan penanggulangan bencana Indonesia berikrar akan bela alam dengan segenap kemampuan kami," ujar Soma pada Deklarasi Relawan bertema ‘Dharma Relawan Adhiraja’ di Lapangan Wisma Nangun Kerti, Buleleng, Bali, Kamis (28/3/2019).

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mendukung sepenuhnya deklarasi, yang sangat dekat upaya-upaya pelestarian alam. Doni menyampaikan, alam sangat penting dijaga sehingga nantinya alam menjaga kita.

Mayoritas bencana alam yang terjadi di Indonesia karena ulah manusia, oleh karenanya penting peran relawan dalam mitigasi bencana. “Kita tidak mau bencana kembali terjadi, apalagi sampai menimbulkan korban jiwa,” ucap Doni.

Sukarelawan merupakan mitra penting pemerintah, khususnya BNPB dan BPBD. Di satu sisi, mereka dituntut untuk menjunjung tinggi prinsip sukarelawan, yaitu Panca Dharma.

Prinsip ini, mengikat para relawan bahwa mereka mandiri, profesional, solidaritas, sinergi dan akuntabel. Oleh karena itu, kapasitas sukarelawan menjadi perhatian BNPB untuk terus ditingkatkan, baik pendidikan dan keterampilan.

Di sisi lain, Doni mengharap bahwa relawan tidak hanya berperan pada saat tanggap darurat tertapi pada saat pra dan pascabencana, seperti upaya menjaga dan memperbaiki lingkungan.

“Relawan Penanggulangan Bencana adalah agen perubahan bagi pembangunan berkelanjutan yang berbasis pengurangan risiko bencana menuju bangsa yang tangguh dan menjadi pahlawan kemanusiaan," tegas Doni.

Dharma Relawan Adhiraja memiliki makna "pengabdian relawan untuk ketangguhan bangsa,” baik dari sisi ketangguhan individu yang bersangkutan, maupun menangguhkan masyarakat.

Selama tiga hari sukarelawan dibekali ilmu pengetahuan terkait kesukarelawanan yaitu desk sukarelawan, sertifikasi sukarelawan, serta klaster sukarelawan. Selain itu, ada sesi sosialisasi program Ekspedisi Destana, Gerakan PRB, dan Hari Kesiapsiagaan Bencana.

Doni memberikan secara khusus piagam bagi sukarelawan PMI dan Baznas yang gugur dalam menjalankan tugas kemanusiaan.

Para sukarelawan hadir berasal dari organisasi seperti PMI, MDMC, LPBI NU, Forum PRB, Gerakan Pramuka, Sekretariat Relawan Jatim, Dompet Dhuafa, Baznas Tanggap Bencana, RAPI, Orari, Senkom Mitra Polri serta relawan dari berbagai wilayah seperti Jawa Timur, DIY, Jawa Tengah, Jawa Barat, Aceh, Papua Barat, dan Bali sebagai tuan rumah. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua