Kritisi UU Pers, Mangku Pastika Raih Doktor di Unud

Selasa, 05 Maret 2019 : 23.30
Mangku Pastika saat mempertahankan disertasi di Universitas Udayana/istimewa
Denpasar - Mantan Gubernur Bali I Made Mangku Pastika meraih gelar doktor setelah mempertahankan disertasi yang banyak mengkritisi UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 yang dinilai tidak fungsional.

Disertasi Pastika diuraikan panjang lebarm yang menyoriti beberapa titik lemah Undang-Undang Pers nomor 40 tahun 1999. Ia menyebut Undang-undang Pers yang kini diberlakukan tidak fungsional. Banyak aturannya yang tidak fungsional.

“Satu-satunya undang-undang di Negara ini yang tidak ada turutannya berupa Peraturan Pemerintah atau apa pun namanya adalah Undang-undang nomor 40 tahun 1999," tegas dia di hadapan sembilan orang professor dosen penguji dari Fakultas Hukum Unud.

Pastika bahkan menyebut, tidak ada orang yang berani mengutak atik UU tersebut. Padahal, jelas-jelas undang-undang itu, tidak memberi kewenangan memadai bagi Dewan Pers untuk misalnya mengatur kehidupan Pers di Tanah Air.

Karenanya, dalam kesimpulan disertasinya, dengan merujuk pada beberapa fakta dan kasus-kasus pengaduan masyarakat kepada Dewan Pers terkait sengketa pemberitaan, Pastika berpendapat, Undang-undang nomor 40 tahun 1999, sangat perlu dan mendesak untuk direkonstruksi.

Dengan demikian, bisa menjadi Undang-undang yang fungsional dan memberi jaminan kepastian akan kehidupan Pers di tanah air. Gelar doktor diraih Pastika saat usianya menginjak 67 tahun di Fakultas Hukum Universitas Udayana (Unud) Denpasar pada 4 Februari 2019.

Sembilan orang profesor penguji, dosen Fakultas Hukum Universitas Udayana Denpasar, masing-masing memberi nilai tinggi terhadap Disertasi Made Mangku Pastika yang berjudul “Pengaturan Kebebasan Pers Dalam Penyelenggaraan Perdagangan Jasa Pariwisata Berkelanjutan.”

Nilai disertasi Pastika adalah 3,98. Ini adalah perolehan nilai tertinggi yang pernah tercatat di Fakultas Hukum Universitas Udayana, sejak program S3 Ilmu Hukum dibuka.

Ini adalah capaian nilai mahasiswa S3 Fakultas Hukum Universitas Udayana yang tertinggi sepanjang berdirinya program S3 Unud Denpasar. Mestinya lulus cumlaude, namun waktu tempuh masa perkuliahan Mangku Pastika melebihi target normal penyelesaian studi S3.

"Makanya tidak bisa cumlaude. Tetapi ini nilai dengan predikat sangat memuaskan," ujar salah seorang penguji, Prof.Dr.Sri Setiabudi. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru