KKP Ingatkan Praktek Ilegal Fishing Alih Muat di Laut Lepas

Selasa, 05 Maret 2019 : 12.51
Ilustrasi/dok.kkp
Abu Dhabi - Dunia internasional diminta mewaspadai praktek ilegal fishing dengan modus transshipment at-sea atau alih muat di laut.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), Sjarief Widjaja menyatakan hal itu disela persiapan Delegasi Indonesia menghadiri pertemuan Kelompok Ahli Panel Tingkat Tinggi (PTT) untuk Ekonomi Laut Berkelanjutan di Hotel Park Hyatt Abu Dhabi, pada Minggu (3/3/2019).

Sjarief mengingatkan, dunia internasional untuk mewaspadai modus operandi illegal fishing. Modus tersebut dintaranya transshipment at-sea (alih muat di laut). Kemudian juga penggunaan flags of convenience di laut lepas untuk menghindari pemantauan dan penegakan hukum.

"Ada juga modus pendaratan di ports of convenience untuk menghindari inspeksi yang ketat," tegas Sjarief. Menurutnya, banyak yang sengaja melakukan transshipment di tengah laut sehingga sulit membedakan mana hasil tangkapan yang legal dan mana yang ilegal.

Karena itulah, BP nomor 15 juga akan membahas mengenai permasalahan lainnya yang mengancam keamanan maritim, seperti tindak pidana penyelundupan secara ilegal, perdagangan orang, perbudakan, dan pembajakan.

Diketahui, pertemuan tersebut, Indonesia diwakili mantan Menteri Luar Negeri, Hassan Wirayuda; Kepala Badan Riset dan Sumber Daya manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), Sjarief Widjaja; dan Direktur Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan, Toni Ruchimat.

Pembentukan PTT ini merupakan inisiatif Perdana Menteri Norwegia yang bertujuan mengarusutamakan kepentingan menjaga kesehatan laut dunia untuk mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

PTT diketuai oleh Perdana Menteri Norwegia dan Presiden Republik Palau, dengan anggota 14 negara yakni Indonesia, Norwegia, Palau, Jepang, Australia, Chile, Fiji, Ghana, Guinea, Meksiko, Namibia, Portugal, Kanada, dan Kenya. Apabila dijumlahkan, negara-negara tersebut mewakili lebih dari 60 persen garis pantai dunia.

Produk akhir PTT adalah summary of recommendations, scientific synthesis report, dan blue papers (BP). Ketiga produk ini akan disampaikan pada pertemuan United Nations Ocean Conference 2020. Rekomendasi-rekomendasi yang tertuang pada produk PTT akan dihasilkan berdasarkan kajian ilmiah yang aktual.

Karenanya, PTT didukung oleh pakar-pakar dunia yang tergabung dalam Kelompok Ahli PTT. Tugas dari Kelompok Ahli adalah untuk menyusun pandangan, mengidentifikasi solusi, dan mengembangkan strategi untuk menterjemahkan solusi-solusi konkrit.

Kelompok Ahli terdiri dari peneliti yang berpengalaman dan analis kebijakan dari seluruh dunia. Beberapa anggota Kelompok Ahli akan dilibatkan secara langsung pada penulisan BP. Indonesia sendiri mengirim dua ahli dalam penyusunan BP ini yaitu Hassan Wirajuda dan Sjarief Widjaja.

"Indonesia akan menjadi lead author pada blue paper nomor 15 mengenai Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing and Select Security Issues of Concern," tegasnya.

Selain itu, Indonesia menjadi contributor pada penulisan blue paper nomor 11 mengenai The Relationship between Humans and Their Ocean Planet dan nomor 14 mengenai Holistic Ocean Management.

“Pada blue paper nomor 15 ini, kita (red - Indonesia) akan berbagi beberapa modus operandi praktik IUU fishing di wilayah ZEE (red - Zona Ekonomi Eksklusif) maupun laut lepas seperti yang kita temukan di Indonesia,” ungkap Sjarief.

Sjarief menambahkan, Indonesia juga akan membahas hambatan yang dihadapi pemerintah dalam memberantas praktik IUU Fishing dan solusi pembenahan pengelolaan ruang laut yang bebas dari praktik IUU Fishing.

Pada pertemuan kelompok ahli ini, delegasi Indonesia menyampaikan, pembenahan pengelolaan laut dunia dapat dilakukan melalui pembentukan norma dasar yang diterima secara internasional, optimalisasi peran institusi/organisasi internasional

Selain itu, pembentukan jaringan permanen dalam penanganan kasus untuk meningkatkan koordinasi dan kerja sama antarnegara dan dengan institusi internasional yang ada. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru