Investasi Indonesia Membaik, Jokowi Akui Ekspor Disalip Negara Tetangga

Rabu, 13 Maret 2019 : 06.44
Presiden Joko Widodo/biro pers setpres
Tangerang - Presiden Joko Widodo mengungkapkan meski investasi Indonesia makin membaik namun dari sisi nilai ekspor masih tertinggal dibanding negara-negara tetangga.

Kepala Negara menyampaikan, dalam dua-tiga tahun terakhir sudah banyak kemajuan dalam mendorong investasi di Indonesia yang bisa dilihat dari peringkat investasi Indonesia yang terus membaik.

Disebutkan tahun 2017, Indonesia sudah masuk ke dalam peringkat layak investasi dari tiga lembaga pemeringkat internasional, yaitu Standard and Poor's, Moody's Investor Service, dan Fitch Ratings. Saat memberikan sambutan dalam acara Peresmian Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Investasi Tahun 2019, Presiden juga menyebutkan bahwa

"Tahun 2018 Indonesia merupakan destinasi investasi terbaik keempat di dunia berdasarkan United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD)," sebutnya Saat memberikan sambutan dalam acara Peresmian Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Investasi Tahun 2019, Selasa 12 Maret 2019.

Tentu saja, hal ini menjadi modal besar. Yang kedua, peringkat ratingnya, kemudian survei untuk CEO-CEO perusahaan multinasional, mengatakan Indonesia adalah nomor empat paling menarik bagi investasi.

Meskipun demikian, Presiden mengungkapkan, untuk urusan ekspor dan investasi, Indonesia sudah ditinggal oleh negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, hingga Vietnam.

"Kita tidak mau lagi ditinggal oleh yang namanya nanti Kamboja, Laos, enggak lah," ucap Kepala Negara di Nusantara Hall, Indonesia Convention Exhibition (ICE) Bumi Seprong Damai (BSD), Tangerang, Provinsi Banten.

Jika dilihat beberapa indikator, ekonomi Indonesia masih dalam posisi baik. Selain posisi fiskal Indonesia yang stabil dan keseimbangan primer yang juga sudah baik, kebijakan moneter Indonesia juga menurut Presiden sangat responsif.

"Ada perubahan apa, besok sudah memberikan kebijakan. Saya kira kecepatan-kecepatan seperti itu yang kita butuhkan sekarang ini. Infrastruktur juga semakin baik dan akan terus kita perbaiki sehingga biaya logistik, biaya transportasi, mobilitas orang bisa semakin cepat," tukasnya.

Jokowi mengaku heran, mengapa investor datang berbondong-bondong tapi realisasinya tidak sampai 10 persen. Menurutnya, hal ini harus menjadi koreksi dan evaluasi bagi semua pihak terkait. "Kalau kita rutinitas, enggak berani mengoreksi dan mengevaluasi diri kita, ya enggak akan ada yang namanya lompatan," katanya menegaskan. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru