menu
search

Gubernur Koster Tegaskan Peran Penting Desa Adat Jaga Warisan Bali

Jumat, 15 Maret 2019 : 00.00
Gubernur Bali I Wayan Koster saat mendampingi Menkeu Sri Mulyani dalam tatap muka dengan Bendesa Adat se-Bali
Denpasar - Gubernur Bali I Wayan Koster menegaskan pentingnya peran desa adat sebagai warisan dari leluhur dalam menjaga adat istiadat, tradisi dan budaya di Bali selama berabad-abad.

Hal itu disampaikam Koster dalam pertemuan yang dihadiri para bendesa dari 1.493 desa pakraman seluruh Bali itu. Pertemuan diinisiasi Gubernur Koster. sebagai upaya membuka jalan untuk meyakinkan pemerintah pusat agar mengalokasikan dana bantuan bagi desa pakraman.

Koster menambahkan, desa adat ini terbentuk dari proses sosiologis oleh masyarakat , jadi bukan dibentuk negara tapi oleh masyarakat adat. Jadi sangat otonom dan terpelihara dengan baik. Bali tidak punya emas perak, batubara, tembaga atau gas tapi Bali punya adat istiadat dan budaya yang kaya dan unik.

Kalau diberdayakan secara ekonomi tidak akan habis-habisnya dan desa adat punya peranan paling penting untuk menjaganya, “ jelas Koster dalam sambutannya dalam tatap muka Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan Bendesa Adat se-Bali, di Denpasar, Kamis (14/3/2019).

Koster menyampaikan agenda strategisnya dengan berbagai pergub guna mendukung terpeliharanya kearifan lokal di Bali. “Jika tidak mempertahankan kearifan lokal saya kira kedepan kita akan rentan mengalami goncangan sosial di tengah kemajuan global,” kata Koster.

Bali punya faktor lain yang membedakan dengan daerah lain yang disebut faktor Niskala, yang membawa aura yang kuat. Itulah yang dijaga oleh para bendesa adat ini.

"Sayangnya para bendesa ini banyak yang tidak mendapatkan apa-apa, murni pengabdian dibandingkan tugasnya yang luar biasa. Ini yang saya upayakan agar benar-benar berdaya di Bali,” tambahnya.

Ketua Majelis Utama Desa Pekraman (MUDP) Jero Gede Suwena Putus Upadesha kehadiran Menteri Keuangan Sri Mulyani bisa mengetahui keberadaan dan peranan desa adat di Bali sebagai desa sosial religious dengan tugas sekala dan niskala.

"Yang lebih penting apa yang bisa diberikan negara kepada kita tidak hanya sekedar pengakuan dan penghormatan, tapi juga upaya untuk memberdayakan dan menguatkan desa pekraman yang ada di Bali,” tukasnya.

Jero Suwena menambahka, desa adat di Bali adalah suatu entitas sosial yang unik yang berbeda peranannya dengan desa dinas atau desa administratif. “Kita di Bali sistemnya dualitas, bukan dualisme dimana keduanya berjalan dengan perannya masing-masing dalam kehidupan adat, keagamaan serta kenegaraan," sambungnya.

"KAmi harapkan jalan tengah yang terbaik, sehingga tidak melanggar perundang-undangan yang ada namun desa adat tetap diakui negara. Masih ada celah untuk itu dan kita semua berdoa agar perjuangan ini bisa sampai pada tujuannya,” tutup Jero Suwena. (rhm)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua