Gubernur Koster Optimis Pergub 99 Untungkan Petani Lokal Bali

Senin, 11 Maret 2019 : 00.30
Gubernur Bali I Wayan Koster dalam tatap muka dengan masyarakat Jembrana
Negara - Gubernur Bali I Wayan Koster menyatakan keyakinannya Pergub Pergub 99 tahun 2018 akan menguntungkan petani lokal karena mereka akan memiliki kepastian harga dan keuntungan dalam menjual hasil panen.

“Melalui Pergub 99, produk pertanian lokal akan dibeli pihak hotel, restoran dan catering dengan harga minimal 20 % dari biaya produksi sehingga sudah pasti menguntungkan para petani kita, tidak anjlok,” Kata Gubernur dalam sosialisasi, pembinaan dan pemberdayaan masyarakat bertajuk ‘Tatap Muka Gubenur Bali Bersama Krama Kabupaten Jembrana di Gedung Mendapa Kesari, Negara, Minggu 10 Maret 2019.

Pemberlakuan Pergub ini, bertujuan menyatukan sektor pertanian dengan pariwisata di Bali. Dengan begitu, mampu memberikan dampak positif langsung bagi perekonomian kalangan petani.

Koster menyebutkan, Bali ini dikunjungi wisatawan mancanegara 7-8 juta orang pertahun, domestiknya 9-10 juta. Misalnya, jika pada musim salak, disuguhkan salak, musim manggis disuguhkan manggis dan seterusnya, tidak ada lagi istilah buah lokal tidak laku.

"Saya wajibkan sekarang hotel minimal di musim salak ada 2 biji salak di tiap kamar. Musim manggis juga begitu. Dan harus dibayar buahnya (kebijakan,red) ini diharuskan dan ditegaskan,” terang ketua DPD PDI Perjuangan Bali ini.

Dengan berjalan beriringan, pariwisata bisa turut serta mengangkat ekonomi para petani lokal. “Jangan jalan sendiri-sendiri, pariwisatanya maju, petaninya mati, tidak boleh seperti itu,” katanya mengingatkan.

Pasar wisatawan yang demikian besar datang ke Bali, selama ini belum diberdayakan sehingga belum mampu menyentuh langsung para petani lokal. Sementara di sisi lain, seringkali menghadapi anjloknya harga pada saat musim panen.

Akhirnya mereka harus menerima produknya terbuang busuk karena tidak laku terjual. “Ini tidak boleh lagi. Akan saya tata dan akan saya buatkan sentra pasar sesuai dengan potensi dan komoditasnya. Jeruk di Kintamani, salak di Karangasem, Manggis di Tabanan dan seterusnya.

Selain itu, ke depan akan dibentuk industri-industri pengolahan sebagai sarana menghindari terbuangnya hasil pertanian untuk kemudian diolah menjadi produk-produk seperti jus, wine, dan lainnya.

“Arak Bali pun akan saya benar-benar hidupkan lagi, suratnya sudah saya kirimkan dan saya fasilitasi industrinya, buat koperasi, agar masyarakat kita maju dan jadi bos, jangan jadi anak buah terus, itu yang namanya berdikari secara ekonomi,” imbuhnya. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru