Gubernur Koster Harapkan Kaum Milenial Cintai Adat dan Budaya Bali

Rabu, 06 Maret 2019 : 22.08
Gubernur Bali I Wayan Koster saat menghadiri upacara Tawur Agung Kesanga di Puri Besakih, Karangasem
Karangasem - Gubernur Bali Wayan Koster mengingatkan krama dan terutama generasi muda Bali untuk tetap mencintai adat dan budaya Bali di tengah arus perubahan jaman.

Koster mengapresiasi anak muda yang bisa menguasai Bahasa Inggris atau Bahasa asing lainnya sebagai modal dalam dunia kerja. Hanya, jangan melupakan bahasa Bali, adat istiadat Bali serta budaya Bali sebagai akar kita sebagai orang Bali.

"Saya mengajak terutama kepada kaum milenial untuk lebih banyak belajar dan mencintai Budaya Bali,” kata Gubernur dalam sambutan di sela Upacara Tawur Agung Kesanga, di Bencingah (pelataran) Pura Agung Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Rabu (6/3/2019).

Pembangunan Bali di masa kepemerintahannya, tidak hanya berupa pembangunan di bidang fisik yang terpola, terencana dan terintegrasi, tapi juga pembangunan di bidang niskala dengan mengambil konsep Tri Pramana dan Tri Hita Karana yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur dan orang-orang suci di Bali.

Warisan leluhur tersebut kata Koster, yang menjadikan Bali sebagai sebuah pulau, memiliki taksu yang membedakannya dari daerah-daerah lain. "Sebagai sebuah konsep yang menuju kepada keharmonisan sesuai dengan visi ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’,” tukas Ketua DPD PDI Perjuangan Bali ini.

Pria kelahiran Singaraja ini juga membeberkan kebijakannya untuk menyusun beberapa regulasi sebagai landasan hukum untuk melindungi dan melestarikan akar-akar kebudayaan yang ada di Bali.

Regulasi itu antara lain Peraturan Gubernur (Pergub) Penggunaan Pakaian adat Bali, Pergub Bahasa dan Aksara Bali serta Pergub pemanfaatan hasil pertanian, perikanan dan industri lokal di Bali. Pergub yang disusun ini, tak lain untuk melestarikan akar-akar kebudayaan Bali sehingga tetap kuat meskipun diterpa ‘angin kencang’ perubahan jaman.

"Saya masih menyusun sekitar 5 Perda dan 16 Pergub yang akan diselesaikan tahun 2019 ini,” ucapnya sembari menekankan pentingnya peran desa adat sebagai benteng adat dan budaya yang harus tetap dijaga.

Upacara Tawur Agung Kesanga atau yang berarti korban suci untuk keharmonisan alam semesta tersebut dilaksanakan serangkain Hari Suci Nyepi tahun Saka 1941 dan dipimpin oleh tiga orang sulinggih.

Selain korban suci yang ditandai dengan penyembelihan beberapa jenis hewan tersebut juga dipentaskan tarian seperti Rejang, baris serta Topeng Sidakarya yang dalam kesempatan tersebut ditarikan oleh Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru