Digelontor USD 50 Juta, Indonesia Jadi Pilot Regenerasi Petani di Dunia

Selasa, 12 Maret 2019 : 15.32
Sekjen Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro (kanan) mengungkapkan Indonesia telah menjadi pilot project alih generasi petani di dunia
Badung - Dinilai berhasil dalam melakukan perubahan atau regenerasi petani melalui teknologi menuju ke petani modern menjadikan Indonesia sebagai pilot project dunia di sektor pertanian. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro mengatakan, sejak tahun 2012, masalah alih fungsi lahan menjadi persoalan, yang mendapat perhatian serius.

Karena itulah, pemerintah melalui Kementan, terus melakukan alih generasi petani Indonesia menuju petani milenial atau modern, yang memiliki akses mudah ke permodalan dan pasar yang berbasiskan teknologi.

"Bagaimana petani, mampu meningkatkan produktivitas yang lebih tinggi, melalui pengembangan pelatihan secara bertahap hingga ke kabupaten-kabupaten, yang diharapkan terjadi alih generasi petani," tuturnya di Bagus Agro Pelaga, Petang, Badung, Selasa 12 Maret 2019.

Diharapkan, melalui alih generasi petani muda milenial, bisa menjadi tulang punggung petani masa depan, untuk mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

Berkat keseriusannya dalam melakukan regenerasi petani itulah, Indonesia menjadi salah satu pilot dunia, melalui pendanaan IFAD untuk melakukan regenerasi petani, yakni menjadi generasi muda petani yang produktif, melek teknologi dan modern,

"Indonesia sebagai percontohan, akan disoroti dunia, dianggap cukup berhasil dalam melakukan perubahan pertanian melalui aspek teknologi," tandasnya usai memberikan sambutan di hadapan ratusan perwakilan anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) seluruh Bali itu.

Melalui International Food Agriculture Development (IFAD), salah satu sumber pendanaan khusus untuk pertanian, Indonesia mendapat bantuan bertahap untuk pengembangan petani milenial yang rural dan agriculture senilai USD 50 juta, mulai tahun ini selama tiga tahun ke depan, karena menjadi percontohan dunia.

Ditegaskan, pemerintah telah melakukan regenerasi petani, mulai tahun 2019 melalui BImtek untuk merubah mainset dari petani tradisional, menjadi modern maupun mekanisasi teknologi pertanian.

Kemudian, salah satu persoalan alih fungsi lahan sebagai akibat perkembangan pariwisata dan perumahan seperti di Bali, pemerintah mendorong sektor pertanian agar lebih profitable sehingga lebih menguntungkan dengan menghubungkan antara petani dan wisata agro seperti di Petang.

Sekjen Kementan Syukur Iswantoro memberikan bantuan bibit kepada peserta Bimtek dari Gapoktan
Salah satu konsep yang diubah, jika selama ini, petani menjual produk atau barang ke pasar, sekarang menjadi pasar yang datang ke petani melalui wisata agro. Model ini, akan dikembangkan oleh kelompok tani, tidak hanya terbatas pada perkebunan saja melainkan dengan tanaman pangan lainnya.

Apalagi, Bali terkenal dengan subak, hidro power untuk tenaga listrik seperti kerja sama dengan JICA. Pada sistem pengolahan hasil pertanian padi, juga dilakukan kerja sama untuk pengembangan penggilingan padi yang mobile.

Persoalan lainnya yang menjadi sorotan, ketersediaan energi pascapanen karena kadar air tinggi, telah ditemukan teknologi pengering yang telah diujicoba. Dalam tempo dua hari, produksi kapasitas 2 ton, kadar airnya menurun drastis sehingga bisa lansung digiling di pabik penggilingan padi.

"Itu salah satu langkah kita, dalam mengatasi alih fungsi lahan, karena selama ini, ada anggapan pertanian kurang profitble dibanding sektor lain," sambung Syukur. Peningkatan nilai tambah atau profitable, dengan langkah modernisasi mengkaitkan pariwisata seperti di Bali, akan merubah mainset terhadap pertanian.

Dicontohkan, seperti di Kecamatan Petang, melalui wisata agro yang menggabungkan petani minimal mereka mendapat pendapatan Rp3 juta perbulan, belum termasuk tambahan lain. Jadi, petani bekerja sama dengan obyek wisata

Saat ini, di Bali, ada sekira 12 ribu petani milenial yang berumur 18 sampai 39 tahun. Mereka inilah yang dibekali dengan bimbingan teknis bagaimana pengolahan pascapenen dengan basis teknologi informasi sehingga lebih modern seiring masuknya era industri 4.0.

"Secara bertahap setiap tahun petani milenial bisa bertambah 20 persen jumlahnya," demikian Syukur. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru