Cerita Jokowi Dimarahi Petani di Awal Menjadi Presiden

Rabu, 20 Maret 2019 : 09.33
Presiden Jokowi saat pembukaan rapat koordinasi dan diskusi nasional HKTI di Istana Negara
Jakarta - Presiden Joko Widodo bercerita bagaimana dirinya dimarahi petani saat awal-awal menjabat sebagai Kepala Negara.

Cerita itu disampaikan Jokowi saat saat meresmikan pembukaan Rapat Koordinasi dan Diskusi Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Tahun 2019 di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa, 19 Maret 2019.

Dalam empat tahun ini, pemerintah telah membangun infrastruktur di seluruh Tanah Air. Proyek infrastruktur tersebut ada yang dibangun untuk mendukung pertanian dan perkebunan di banyak wilayah.

Kata Jokowi, pemanfaatan hasil pembangunan tersebut membutuhkan proses yang tidak instan. "Jadi kalau orang menginginkan langsung bisa swasembada, bisa langsung ketahanan kita meloncat naik, enggak akan mungkin seperti itu. Perlu proses, perlu tahapan-tahapan," ujarnya.

Presiden mengingat betul upaya yang dilakukan pemerintah untuk menjaga stabilitas harga jagung yang cukup membutuhkan waktu. Bahkan, Kepala Negara sempat menerima banyak keluhan para petani terkait hal tersebut di masa awal pemerintahan.

"Saya baru dilantik dua bulan sudah dimarahi para petani. Ya enggak apa. Pak, gimana Bapak sebagai presiden? Jagung jatuh harganya di Rp1.400-1.600 di sini. Kita produksi itu Rp1.800. Jagungnya gede-gede, tapi kita rugi," tuturnya.

Dari penelusuran, pada 2014, Indonesia membuka keran impor bagi komoditas jagung hingga mencapai 3,6 juta ton. Hal itulah yang membuat harga jagung di tingkat petani mengalami penurunan hingga merugi.

"Impor jagungnya oleh Menteri Pertanian langsung direm total. Data yang saya punya di 2018 kemarin impor kita hanya 180 ribu ton. Sebelumnya hampir 3,6 juta ton," ucapnya.

Selain itu, pemerintah menetapkan harga pokok penjualan (HPP) komoditas jagung hingga petani mendapatkan keuntungan. Hal itu ditetapkan melalui Peraturan Presiden dengan mengambil rata-rata harga jagung di semua daerah.

"Apa artinya? Produksi petani itu semakin meloncat naik karena memang harganya memungkinkan petani untuk dapat keuntungan. Siapa yang mau menanam kalau hanya untuk rugi," kata Presiden.

"Tapi seperti ini membutuhkan proses," imbuhnya. Upaya yang sama saat ini tengah diupayakan pemerintah untuk banyak komoditas pertanian lainnya. Utamanya komoditas-komoditas yang masih dibutuhkan impor untuk memenuhi kebutuhan. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru