menu
search

WWF Bali Gemakan Perayaan Tahun Baru Imlek Tanpa Hidangan Hiu

Minggu, 03 Februari 2019 : 22.35
BADUNG - World Wide Fund for Nature (WWF) menggandeng komunitas lainnya getol menyuarakan perlindungan terhadap hewan dengan meminta masyarakat saat perayaan Tahun Baru Imlek tidak menghidangkan ikan hiu sebagai santapan.

Hidangan olahan daging Hiu bagi sebagian masyarakat Tionghoa yang merayakan Imlek menjadi hidangan spesial untuk disuguhkan saat perayaan Tahun Baru China.

Menyantap ikan hiu utamanya bagian sirip dianggap dapat membuat vitalitas tubuh bertambah dan membuat awet muda. Saat ini Hiu merupakan salah satu speies fauna yang masuk dalam kategori terancam hingga mendekati kepunahan.

Mengkonumsi olahan daging ikan Hiu sangat tidak dianjurkan. Pasalnya, daging ikan hiu diketahui mengandung kandungan merkuri tinggi.

Sebagai bentuk Edukasi ke Masyarakat luas, organisasi World Wide Fund for Nature (WWF) menggandeng komunitas #SOSharks, komunitas Marine Debries & Marine Debris Guard UNUD, dan komunitas Earth Hour Denpasar mengadakan Talk Show Cerita Konservasi.

Kegiatan Talk Show Cerita Konservasi ini di Fountain Stage, Beach Walk Shopping Centre Jalan Raya Pantai Kuta, Badung, Sabtu (2/2/2019).

Talk Show menghadirkan Riyanni Djangkaru (Komunitas Savesharks Indonesia), Ranny R Yuneni (Sharks Conservation Officer, WWF Indonesia), Dominique Diyose (Mother, Model Enviromentalist), dan Flora Christin (Indonesia Female Competitive Longboard Surfer).

Cerita Konservasi kali ini mengangkat Tema “Hiu Di Laut, Bukan Di Menu” dengan kampanye disocial media #ImlekBebasHiu.

Berbagai komunitas anak muda nampak hadir dalam agenda Talk Show Cerita Konservasi seperti dari BPSPL Denpasar, Komunitas Bring Your Tumbler, Himasila FKP UNUD, Himmaspera FKP UNUD,UKM Wushu Udayana, Mahasiswa Universitas udayana, Mahasiswa Universitas Marmadewa, dan para pegiat lingkungan.

Menurut Riyani, untuk konservasi ikan hiu agar tidak disantap merupakan tanggung jawab bersama. Bukan hanya dirinya sebagai seorang jurnalis, namun seluruh masyarakat Indonesia perlu dilibatkan.

“Peran serta untuk melestarikan keberadaan hiu merupakan kesadaran kolektif dan pemerintah perlu gencar mengedukasi masyarakat melalui undang-undang,” ungkapnya. Beda cerita dengan Flora yang seorang atlet Surfing. Sebagai seorang professional Surfer, ia berujar bahwa ikan hiu bukanlah ancaman baginya.

Rani sebagai peneliti Hiu, membuat simulasi segitiga permintaan pasaryang terdiri dari nelayan, pengepul ikan, chef dan terakhir konsumen. Segitiga ini menjelaskan bahwa untuk menghentikan konsumsi ikan hiu dimulai dari konsumen.

“Jika nggak ada permintaan dari konsumen untuk menyantap olahan ikan hiu, hiu tidak akan ditangkap .No demans, No Supply,” tegasnya.

Sedangkan Dominique Diyose yang seorang keturuna Tionghoa mengaku tidak pernah mengkonsumsi olahan daging Hiu. Ia bertutur bahwa menyantap daging hiu hanya dilakukan keluarga Tionghoa yang berkantong tebal.

“Saat merayakan Imlek, kami tidak mengkonsumsi daging ikan hiu karena harganya yang mahal dan hanya kalangan berada saja yang bisa menyantap. Kebetulan saya bukan tergolong keluarga yang berada,” tuturnya.

Talk Show Cerita Konservasi pun diramaikan dengan demo masak menu ramah lingkungan dari Chef Arbi, Lukis Wajah Senyum Hiu, Lomba Gambar Hiu Bebas di Lautan, dan Pameran foto potret Hiu di Indonesia. (*)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua