menu
search

Sebatang Kara, Nenek Ubud Ini Hanya Mampu Menunggu Belas Kasihan

Rabu, 13 Februari 2019 : 06.24
Nenek Ubud nampak sumringah mendapat kunjungan dari komunitas Relawan Ketimbang Ngemis Bali/istimewa
DENPASAR - Ni Wayan Lepug nenek berusia 85 tahun asal Ubud, Kabupaten Gianyar Bali yang hidup sebatang kara kini hanya bisa menunggu belas kasihan orang untuk bertahan hidup setelah tidak lagi mampu berjualan.

Nenek renta ini, hidup sendiri, setelah anak satu-satunya meninggal dunia beberapa tahun lalu. Sedangkan, sang cucu, sudah setahun belakangan tidak pernah menjenguk ke tempat tinggalnya berukuran 3x3 meter di Jalan Gatotkaca Gang Buntu Denpasar.

Kala kondisinya sehat dahulu, perempuan yang disapa Nenek Ubud, bekerja sebagai pedagang buah Salak di Pasar Badung. Ia mulai berjualan tahun 1951 sampai musibah terjadi menyebabkan pinggangg separuh mati rasa dan susah duduk normal.

Demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia mengandalkan belas kasihan tetangga ataupun dermawan yang mengetahu nasibnya. Rumah mungil yang ditinggali Nenek Ubud ini, terbilang tidak sehat.

Kondisinya tidak terawat dan penuh debu. Kala musim hujan datang, rembesan dan tetesan bocor di sana sini. Mendapati kondisi Nenek Ubud yang memprihatinkan, Komunitas Ketimbang Ngemis Bali tergerak menyambangi Nenek Ubud. Secara sukarela seminggu dua kali, saban Selasa dan Sabtu.

Tim Komunitas Ketimbang Ngemis Bali membagi diri menjadi dua kelompok. Dimana masing-masing kelompok akan melakukan piket untuk merawat Nenek. Raut bahagia terpancar di wajah Nenek Ubud kala disambangi tim Komunitas Ketimbang Ngemis Bali, Selasa (12/2/2019).

Relawan Komunitas Ketimbang Ngemis Bali membawakan sarapan bubur ayam hangat untuk disantap pagi itu. Relawan lainnya merapikan ranjang Nenek Ubud istirahat. Sebagian lainnya, mencuci gelas dan piring , serta mengajak Nenek Ubud mengobrol.

“Odah (nenek) tidak dapat membalas kebaikan adik-adik sekalian” ucapnya terbata. Ketua Project Kunjungan ke Nenek Ubud , Ayu Zulalina mengatakan, kegiatan yang mereka lakukan semata-mata demi membahagiakan nenek agar bisa sedikit hidup lebih layak.

“Mudah-mudahan kegiatan sederhana kami bisa membuat hati nenek senang. Kami mengasihi dan merawat beliau seperti nenek kami sendiri. Setidaknya apa yang kami lakukan bisa membuat kehidupan nenek menjadi lebih layak” tutur Zulalina. (rhm)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua