menu
search

Presiden Jokowi Sebut Kampung Nelayan di Bengkulu Jadi Percontohan

Minggu, 17 Februari 2019 : 14.50
Presiden Jokowi dan Menteri Kelautan Perikanan Susi Pudjiastuti saat mengunjungi kampung nelayan di Bengkulu
BENGKULU - Presiden Joko Widodo memuji keberadaan kampung nelayan Sumber Jaya Kampung Melayu Kota Bengkulu bisa menjadi percontohan model bagi daerah laiannya di Indonesia.

Dalam rangkaian kunjungan kerja ke Provinsi Bengkulu, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dengan didampingi Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meninjau penataan kawasan Kampung Nelayan Sumber Jaya, Kampung Melayu, Kota Bengkulu, Jum’at (15/2).

Turut serta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Kedatangan rombongan disambut oleh Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah dan Walikota Bengkulu Helmi Hasan.

Presiden menyusuri perkampungan, singgah di beberapa rumah, dan menyapa warga sekitar. Selanjutnya rombongan mengunjungi dermaga tempat bersandarnya kapal-kapal nelayan. Dermaga tersebut tampak bersih dan rapi.

Dia menyebutkan, peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan penataan permukiman nelayan yang tinggal di pesisir pantai berjalan sebagaimana mestinya. “Ini penataan kampung nelayan yang sudah 3 tahun kita kerjakan. Tidak hanya di Bengkulu, tetapi juga ada di Tegal, Jawa Tengah dan Pontianak. Kurang lebih hasilnya seperti ini,” ungkap Presiden.

Progress penataan perkampungan nelayan ini masih sekitar 20 persen. Untuk itu, pemerintah terus mendorong penerbitan sertifikat dan merampungkan pembangunan fasilitas umum dan rumah-rumah nelayan.

“Setelah dimulai penataan, rumah-rumah lebih tertata bersih. Nelayan jadi (kapalnya) bisa bersandar,” lanjut presiden. Selanjutnya, Presiden menginginkan agar Kampung Nelayan Sumber Jaya ini dapat menjadi ‘prototype' (percontohan) bagi kampung-kampung nelayan lainnya.

Sebagai informasi, Kampung Nelayan Sumber Jaya ini dibangun di lahan seluas 12 hektare dan menampung 800 kepala keluarga (KK). Penataan kampung nelayan ini bertujuan untuk menjadikannya lebih ramah dan layak huni serta dapat dijadikan sebagai daerah destinasi wisata.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Susi menyempatkan diri menyapa dan berbincang dengan nelayan sekitar. Adalah Fajri Sinaga dan Rusdalifah, sepasang suami istri nelayan yang baru saja pulang menangkap ikan. Menteri Susi menghampiri keduanya dan membeli cumi-cumi hasil tangkapannya.

“Kita bilang harganya Rp150.000, tapi Ibu Susi kasih Rp300.000. Lumayanlah, bisa beli beras 3 hari," ungkap Fajri sumringah.

Menurut Fajri, selain menangkap cumi-cumi, dirinya juga biasa menangkap ikan yang disebut oleh warga sekitar sebagai ikan gole-gole dan pinang-pinang. Susi mengimbau masyarakat untuk menjaga lingkungan dengan tidak menggunakan alat tangkap yang merusak. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua