Presiden Jokowi Akui Sulit Sembuhkan Luka Konflik dan Perpecahan

Sabtu, 09 Februari 2019 : 10.03
Presiden Jokowi saat memberi sambutan Deklarasi Antihoaks dan fitnah di Cianjur/biro pers setpres
CIANJUR - Presiden Joko Widodo mengingatkat semua pihak agar menjaga persatuan dan persaudaraan sebab jika sampai terjadi perang atau konflik maka akan sulit untuk menyembuhkan.

Kepala Negara menyampaikan hal itu saat menghadiri deklarasi antihoaks, antifitnah, dan antigibah yang dilakukan oleh Muslimat Nahdlatul Ulama (NU). Deklarasi dilakukan pada acara Silaturahmi Presiden dengan Muslimat NU dan Para Ulama di Pondok Pesantren Al-Ittihad Cianjur, Jumat, 8 Februari 2019.

"Saya sangat menghargai sekali, Bu Khofifah, deklarasi-deklarasi oleh Muslimat NU di mana-mana supaya kita tidak didera oleh perpecahan dan konflik," tegas Jokowi. Presiden lanjut mengingatkan jika sudah perang, sudah konflik, menyembuhkannya dan mengembalikannya sangat sulit.

Indonesia dianugerahi Allah berbeda-beda, mulai dari suku, agama, adat, tradisi, hingga bahasa daerah. Oleh karena itu, penting untuk merawat dan menjaga persatuan, kerukunan, dan persaudaraan bangsa.

"Karena bangsa Indonesia ini adalah bangsa besar. Berbeda-beda dan jumlahnya banyak sekali. Penduduk kita sekarang jumlahnya sudah 260 juta. Kita memiliki 714 suku," katanya menegaskan.

Presiden memberikan contoh negara Afghanistan, sebuah negara kaya di Timur Tengah yang hancur karena konflik dua suku yang berkepanjangan. Kepada para hadirin, Presiden menceritakan pengalamannya bertemu dengan Presiden Ashraf Ghani dan Ibu Rula Ghani.

Mengutip apa yang disampaikan Rula Ghani yang paling rugi hanya dua, satu, wanita, yang kedua anak-anak. Tidak bisa ke mana-mana.

"Beliau menyampaikan, sekarang saya bisa naik sepeda saja sudah saya syukuri alhamdulillah. Inilah pengalaman, pelajaran yang bisa kita ambil. Negara yang dulunya aman tenteram kemudian perang karena konflik dua suku," tutur Presiden.

Karenanya, deklarasi ini penting untuk mengingatkan kepada seluruh komponen bangsa bahwa semua bersaudara. Kepala Negara tidak ingin jika gara-gara pesta politik seperti pemilihan kepala daerah (pilkada) dan pemilihan presiden (pilpres) justru membuat masyarakat tidak saling sapa.

"Lupa kita ini saudara. Ukhuwah kita harus kita pererat terus, kita jaga, kita rawat. Kok urusan pilihan politik menjadi seperti itu. Karena apa? Di sini ngompori, di sini ngompori, kemudian muncul di tengah-tengah fitnah dan hoaks sehingga antarteman, antartetangga, antarkampung tidak saling bicara," ungkapnya.

Memilih pemimpin dalam kontestasi politik itu mudah. Masyarakat tinggal melihat pengalaman, prestasi, program kerja, dan ide serta gagasan yang ditawarkan.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu meminta masyarakat tidak gampang termakan fitnah-fitnah, isu-isu yang berkembang. "Kalau sudah menjelang, ini kan dua bulan lagi ini bulan politik ini, isinya pasti simpang siur ke mana-mana," tandasnya. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru