menu
search

Menteri Susi Minta Penggunaan Keramba Jaring Apung Tak Eksploitatif

Selasa, 12 Februari 2019 : 17.53
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat menebar benih ikan di Danau Kerinci, Jambi/humas kkp
KERINCI - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meminta penggunaan keramba jaring apung (KJA) tidak eksploitatif guna menjaga perikanan keberlanjutan.

Hal itu disampaikan Menteri Susi saat kampanye Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan), dalam kegiatan bertajuk “Ayo Makan Ikan untuk Mencegah Stunting” di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, Senin (11/2/2019).

Ia menyampaikan, masyarakat di imbau untuk melakukan swasembada pangan. Bahan-bahan makanan yang dapat diproduksi di daerah sendiri tak perlu disuplai dari luar. Utamanya hasil-hasil pertanian dan perikanan, di mana 75 persen masyarakat Kerinci menggantungkan hidup dari kedua sektor tersebut.

Agar kebutuhan pangan khususnya hasil perikanan dapat terpenuhi, Menteri Susi mengimbau masyarakat untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan sumber daya perikanan. "Salah satunya dengan memperhatikan daya dukung lingkungan dan menghindari eksploitasi berlebihan," tegasnya.

Diungkapkan, Danau Kerinci yang cantik ini, selama ini telah membantu masyarakat menghasilkan uang untuk menyekolahkan anak, membangun rumah, dan membangun hal lainnya.

"Jangan sampai berubah menjadi malapetaka. Belajarlah dari kejadian-kejadian yang sudah terjadi di Jawa Barat, di Maninjau, di Singkarak, di Toba, di mana terjadi kematian massal ikan karena tidak terkontrolnya jumlah populasi keramba jaring apung (KJA),” tutur Susi.

Ia pun berpesan, agar Pemda setempat memperhatikan daya dukung danau terhadap budidaya KJA. Ia meminta masyarakat tidak memaksa menambah jumlah KJA jika memang sudah mencapai limit.

“Jika danaunya daya dukungnya tidak kuat, akan terjadi hydrogen sulfide naik, upwelling, akhirnya ikan Bapak-bapak mati semua, ribuan ton ikan mati. Kita menanam ikan hanya untuk kematian, utang ke perbankan tidak bisa bayar,” Menteri Susi mengingatkan.

Menurutnya, warga Kerinci masih memiliki alternatif lahan budidaya ikan lain, yaitu banyaknya lubuk-lubuk besar. Lubuk ini menurutnya dapat dibangun menjadi embung tempat memelihara ikan ketimbang memaksakan KJA di danau yang sudah mencapai batas.

“Selain kerugian materi, (ekploitasi danau lewat KJA) juga berdampak bagi kerugian lingkungan. Danau menjadi kotor, keruh, dan bau,” imbuhnya.

Menurut Menteri Susi, Danau Kerinci juga sangat berpotensi dijadikan daerah pariwisata dengan kondisi alam yang indah. Namun untuk itu, kebersihan lingkungan harus dijaga dengan tidak membuang sampah ke danau, terutama sampah plastik.

“Pemakaian sampah sekali pakai dikurangi. Sedotan tidak perlu lagi, wong (minum) dari gelas bisa. Makan kelapa muda langsung juga lebih enak. Kantong kresek bisa diganti dengan kantong kain atau ganepo yang tahan bertahun-tahun,” pesannya. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua