menu
search

Larang Tangkap Benur, Menteri Susi Minta Nelayan Tinggalkan Rumpon dan Cantrang

Rabu, 06 Februari 2019 : 19.01
Menteri Susi Pudjiastuti dalam lawatan di Kabupaten Trenggalek/humas kkp
TRENGGALEK - Para nelayan diminta meninggalkan rumpon-rumpon untuk menangkap benur ikan maupun penggunaan cantrang karena hal itu hanya akan merugikan mereka. Himbauan disampaikan Menteri Perikanan dan Kelautan KKP Susi Pudjiastuti saat berdialog dengan para nelayan di Kabupaten Trenggalek, Senin (4/2/2019).

Menteri Susi didamipingi oleh Gus Ipin menyusuri laut dari Rumah Apung, Teluk Prigi, Kecamatan Watulimo menuju ke Pantai Mutiara dengan mendayung paddle pad selama sekitar 10 menit.

Mendarat di pantai mutiara yang berpasir putih, mereka kemudian disambut Bupati Trenggalek Emil Dardak dan Dirjen Perikanan Tangkap KKP Zulficar Mochtar. Beralas tikar, mereka pun kemudian berdialog membahas masa depan Teluk Prigi.

Emil mengatakan, dirinya tengah mencari format untuk perikanan Trenggalek agar dapat meningkatkan kesejahteraan warga setempat. Cara yang mungkin dilakukan ialah melalui sertifikasi hasil tangkapan di Teluk Prigi yang akan membuat harga jual ikan dari para nelayan lebih tinggi.

Salah satu syarat sertifikasi ini adalah menggunakan teknik penangkapan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Namun, yang memungkinkan untuk disertifikasi adalah hasil tangkapan dengan pancing.

“Katanya yang sudah ada baru di Papua. Di Jawa Timur belum ada,” ucap Emil. Tak hanya berdialog dengan pejabat pemda setempat, Menteri Susi memanfaatkan kunjunganya untuk berdialog bersama warga setempat di Desa Karanggongso, Kecamatan Watulimo.

Susi mengingatkan para nelayan tentang pentingnya menjaga keberlanjutan eskosistem laut secara bersama-sama. Salah satu upayanya ialah dengan tidak menggunakan rumpon-rumpon untuk menangkap benur (benih udang lobster) dan menghentikan penggunaan cantrang.

Hal ini turut terpantik oleh alat benur lobster yang ditemukannya saat menuju Pantai Mutiara sebelumnya. Menurutnya, apa yang dilakukan para nelayan dengan menangkap benur lobster merugikan kehidupan nelayan sendiri.

Benur-benur itu ditangkap dan dijual Rp 30.000 per ekor. Sementara bandar yang menjadi pengepul sudah mengambil keuntungan Rp 15.000 per ekor.

Padahal jika dibiarkan beberapa lama, benur itu bisa laku jutaan rupiah. Selain itu, rumpon-rumpon tersebut juga mengancam ekosistem ikan, ikan akan tertipu dengan rekayasa tempat berlindung tersebut, sehingga tidak mau bertelur di kawasan pantai dan sekitarnya.

"Fish Aggregation Devices itu berbahaya untuk ekologi ikan, ikannya keliling pusing, karena disangkanya itu rumahnya. Jadi dia tidak kembali ke pinggir pantai untuk bertelur untuk beranak pinak,” tambahnya.

Padahal, kondisi Teluk Prigi yang memiliki ombak yang tidak besar sangat memungkinkan untuk menjadi lokasi-lokasi ikan untuk bertelur.

Membagikan pengalamannya, ia berujar bahwa pada saat ia masih beraktivitas langsung sebagai pengusaha perikanan, pihaknya mendapatkan pasokan lebih dari 1 ton lobster per hari dari kawasan Trenggalek, Pacitan dan sekitarnya.

Dia lalu memmbandingkan dengan kondisi saat ini, ia menyayangkan banyakya rumpon-rumpon yang dipasang di tengah laut sehingga kondisi ikan di sekitar teluk menjadi sedikit.

"Tidak perlu rumpon-rumpon besar dipasang, jadi yang gede-gede utamanya dari orang Jakarta, orang mana, akan saya sapu itu karena tidak berizin dan tidak boleh," tegasnya kepada para nelayan yang hadir. Oleh karena itu, ia berharap agar para nelayan menghentikan penggunaan rumpon dan cantrang.

"Ini PR kita bersama. Semua main rumpon. Nelayan menengah main rumpon, nelayan besar apalagi. Ini kesalahan fatal dalam menjaga ekosistem ikan (agar) terus ada dan banyak. Cantrang dan jaring dulu 2 inchi, sekarang 1,25 inchi. Kenapa gak pake kelambu nyamuk (sekalian) saja? Semua kena, kita semua yang bermasalah,” tegasnya.

Selain itu, Menteri Susi juga menyoroti perihal pembangunan pelabuhan di Trenggalek. “Mereka dulu pernah datang ke pendopo, Bu. Tapi mendemo saya soal pembangunan pelabuhan,” ucap Wakil Bupati Gus Ipin yang mendampingi Menteri Susi dalam lokasi dialog yang memang tidak jauh dari lokasi pembangunan pelabuhan perintis niaga di Trenggalek.

Menteri Susi mendukung langkah Pemkab Trenggalek membangun pelabuhan perintis niaga yang dinilai sudah tepat. Meskipun begitu, melihat kontur Teluk Prigi, ia tidak sepakat jika dilakukan reklamasi dalam proses pembangunannya.

“Kalau hanya sedikit bolehlah, tapi jangan tambah lagi,” ucapnya. Sebagai alternatif, ia mengusulkan pembangunan jetty (dermaga) ke tengah laut jika memang dibutuhkan sandaran untuk kapal.

“Membongkar gunung untuk terminal dan menaruh barang masih memungkinkan untuk dilakukan. Tapi kalau mengeruk laut, itu bukan budaya bahari. Saya mohon Bapak Bupati, jangan tambah lagi,” pesan Susi.

Perjalanan hari kedua Menteri Susi di Trenggalek ditutup dengan kunjungannya ke Pondok Pesantren Bumi Hidayah At Taqwa di Kedunglurah, Pogalan, Trenggalek bersama Dirjen Perikanan Tangkap Zulficar Mochtar Bupati Trenggalek Emil Dardak dan istri Arumi Bachsin, serta Wakil Bupati Trenggalek Gus Ipin. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua