menu
search

Kemenag Bantah Pemberhentian Dosen IAIN Bukittinggi Karena Bercadar

Minggu, 24 Februari 2019 : 06.38
ilustrasi/istimewa
Jakarta - Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian Agama menegaskan Hayati Syafri dosen Bahasa Inggris di IAIN Bukuttinggi diberhentikan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) karena melanggar disiplin pegawai bukan karena yang bersangkutan mengenakan cadar atau niqab.

"Hayati Syafri diberhentikan sebagai ASN karena melanggar disiplin pegawai. Keputusan ini didasarkan pada rekam jejak kehadirannya secara elektronik melalui data finger printnya di kepegawaian IAIN Bukittinggi," terang Kasubbag Tata Usaha dan Humas Itjen Kementerian Agama, Nurul Badruttamam, di Jakarta, Sabtu (23/2/2019).

Dari hasil audit Itjen, ditemukan bukti valid bahwa selama tahun 2017 Hayati Syafri terbukti secara elektronik tidak masuk kerja selama 67 hari kerja. Penegasan Nurul ini sekaligus mengklarifikasi rumor bahwa Hayati diberhentikan karena yang bersangkutan mengenakan cadar.

"Hal itu tidak benar, pertimbangan pemberhentian Hayati semata alasan disiplin," tegasnya lagi.

Mengacu Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Pasal 3 ayat 11 dan 17, kata Nurul, PNS yang tidak masuk kerja secara akumulatif minimal 46 hari kerja tanpa keterangan yang sah dalam satu tahun, harus diberikan hukuman disiplin berat berupa diberhentikan secara hormat/tidak hormat sebagai PNS.

Tidak hanya masalah ketidakhadiran di kampus sebanyak 67 hari kerja selama 2017, Hayati juga terbukti sering meninggalkan ruang kerja dan tidak melaksanakan tugas lainnya pada 2018. Disebutkan, tugas dimaksud misalnya, menjadi penasihat akademik dan memberikan bimbingan skripsi kepada mahasiswa.

Hal tersebut, merupakan pelanggaran disiplin berat yang harus dikenai hukuman disiplin berat, yaitu: diberhentikan dengan hormat sebagai PNS. "Jika ada keberatan, Hayati Syafri masih mempunyai hak untuk banding ke Badan Pertimbangan Kepegawaian (BAPEK) ataupun ke PTUN," demikian Nurul. (rhm)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua