menu
search

BSN: Belum Semua Produk Industri Tekstil RI Teruji Standar Internasional

Kamis, 21 Februari 2019 : 05.28
Deputi Penerapan Stamdar dan Penilaian Kesesuaian Badan Standarisasi Nasional (BSN) Zakiyah
JAKARTA - Industri tekstil dan pakaian memainkan peran utama dalam perekonomian Indonesia namun sayangnya belum semua diuji sesuai standar internasional sehingga kerap menjadi hambatan dalam perdagangan ekonomi APEC.

Industri ini memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan produk domestik bruto negara dan pendapatan valuta asingnya. Diperkirakan, industri ini akan berkontribusi sekitar 5 persen untuk ekspor global.

"Hingga kini, Indonesia masih menjadi produsen tekstil dan pakaian jadi terkemuka di kawasan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN)," ujar Deputi Penerapan Standar dan Penilaian Kesesuaian Badan Standardisasi Nasional (BSN), Zakiyah saat membuka seminar Capacity Building on Testing Methods for Functionality Finishing on Textile Products and Certification Methods within the APEC Region di Jakarta, Rabu (20/2/2019).

Tentu saja, hal ini, harus dapat dipertahankan dengan cara meningkatkan kualitas produksinya, dengan mengembangkan standar terkait tekstil. Kini, industri tekstil di wilayah APEC sedang berfokus pada peningkatan aspek kesehatan, contohnya produk tekstil antibakteri, deodoran, antijamur, dan antivirus.

Zakiyah melanjutkan, sayangnya, produk-produk ini tidak selalu diuji sesuai dengan standar internasional, dan skema sertifikasi serta metode pelabelan pada produk ini belum selaras. "Masalah-masalah ini dapat menyebabkan hambatan perdagangan dan kerugian bagi konsumen di ekonomi APEC," tegas Zakiyah.

Ia menerangkan, hingga kini BSN sudah menetapkan 326 Standar Nasional Indonesia (SNI) yang terkait dengan produk tekstil yaitu 208 standar untuk metode pengujian dan 118 standar untuk produk tekstil.

Contoh SNI untuk produk tekstil adalah SNI 8444: 2017 - Kain Brokat. Adapun SNI untuk metode pengujian terkait dengan tekstil misalnya SNI 08-1272-1989 tentang Tekstil, Istilah dan definisi dalam penyempurnaan.

"SNI yang diadopsi dari standar ISO secara total adalah 193, dengan187 adopsi identik dan 6 adopsi dimodifikasi," jelas dia.

Untuk mengakomodir kebutuhan industri tekstil di Indonesia dalam perdagangan diantara negara-negara Asia Pasifik, BSN telah mengadopsi standar ISO secara identik dan menetapkan SNI ISO 20743:2010 -

Penentuan aktivitas antibakteri produk yang diproses penyempurnaan antibakteri. "Tentu kami juga akan melihat perkembangan industri tekstil di Indonesia dan internasional untuk mengembangkan standar-standar baru" ujar Zakiyah.

Direktur JTETC, Norimitsu Suso pun menekankan pentingnya harmonisasi metode pengujian dalam perdagangan.

“Dengan adanya harmonisasi metode pengujian, standar kualitas produk yang dihasilkan satu sama lain akan sama, sehingga dapat meningkatkan ekspor dan meminimalisir hambatan perdagangan,” ujarnya. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua