Tidur Beralaskan Kain, Nenek Kerta Asal Bangli Puluhan Tahun Tinggal di Gubug

Senin, 07 Januari 2019 : 14.27
Nenek Kerta hidup dalam keterbatasan selama puluhan tahun di sebuah gubug di Kabupaten Bangli
BANGLI - Di usia senjanya nenek Kerta, warga Banjar Payuk, Desa Peninjoan, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, Bali hidup dalam keterbatasan selama puluhan tahun tidur beralaskan kain di gubug yang jauh dari layak huni.

Nenek Kerta tinggal di gubuk yang bisa dikatakan tidak layak di atas sebuah bukit yang sekelilingnya terdapat sawah milik warga sekitar.

Peristiwa tabrak lari sepuluh tahun lalu saat berjualan minyak kelapa ke pasar, membuatnya terbatas dalam melakukan aktivitas fisik. Saat ini Nenek Kerta dirawat Made Mustika, putranya, seorang pemetik buah kelapa.

Mustika merawat nenek Kerta dan membantu untuk memasak serta merawat ibunya sehari-hari. Gubuk yang mereka tinggali saat musim hujan tiba banyak bocor. Sang Nenek tidur beralaskan kain seadanya, bukan tidur di kasur yang empuk seperti masyarakat umumnya.

Terketuk nasib dan kehidupan Nenek Kerta, Komunitas Ketimbang Ngemis Bali (KNB) bersama para relawan melakukan kunjungan dan aksi sosial ke kediaman sosok mulia Nenek Kerta pada hari Minggu (6/1/2019).

Rombongan KNB menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam dari Kota Denpasar. Usai tiba di Pura Puseh di Banjar Payuk mengendarai kendaraan roda dua para anggota dan relawan KNB harus berjalan selama 20 meni melewati jalan setapak untuk menuju kediaman Nenek Kerta.

Mereka harus melewati jalan setapak, menemui jurang yang terjal serta naik ke atas perbukitan dan persawahan. Anggota dan relawan KNB bergotong royong membawa donasi dan bingkisan untuk Nenek Kerta meskipun medan begitu ekstrim.

Komunitas KNB amanah dari dermawan membawakan selimut, sarung kemben Bali, baju , minyak telon, kaos kaki, makanan yang bisa bertahan lebih dari 1 bulan seperti abon ikan, lampu tenaga surya untuk penerangan, uang donasi, dan makan siang untuk Nenek Kerta.

Meski sudah uzur, Nenek Kerta dapat berinteraksi dengan anggota Komunitas KNB dengan bahasa Balinya yang begitu kental meski terbata-bata. Raut wajah Nenek Kerta tergambar bahwa dahulu ia merupakan sosok wanita pekerja keras.

Mustika, anak kandung Nenek Kerta sangat bersyukur dan bahagia Komunitas KNB memperhatikan nasib ibunya. “Matur suksma (red : ucapan terimakasih dalam bahasa Bali) ibu saya diperhatikan, semoga kebaikan adek-adek dibalas Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” ucapnya lirih.

Anggota Komunitas KNB, Ganang Heruanto mengatakan, bersama dengan tim KNB lainnya akan kembali bersama para relawan lainnya berjanji akan kembali lagi menyambangi Nenek Kerta tidak hanya hari ini saja.

“Sangat bersyukur bisa berkunjung ke kediaman Nenek Kerta, kunjungan ini tidak hanya berakhir hari ini saja, karena kedepannya Komunitas KNB akan memberikan bantuan lainnya, ini merupakan pertama sekaligus survey saja” imbuh pria asal Semarang ini.

Koordinator Lapangan Komunitas KNB, Muhammad Imran Syaban mengetahui kisah Nenek Kerta awalnya berawal dari sebuah postingan di sosial media. Akhirnya ia dan relawan KNB tergerak untuk datang ke rumah Nenek Kerta. (des)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru