menu
search

Menteri Susi Ungkap Perang Pangan dan Energi di Masa Depan

Sabtu, 26 Januari 2019 : 23.30
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti/humas kkp
JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menegaskan di masa mendatang setiap bangsa harus siap menghadapi perang yang tidak lagi perang politik dan ideologi, melainkan perang food security (pangan) dan energi.

Menteri Susi menyampaikan hal itu dalam kegiatan Chief Editors Meeting di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta Pusat, Jumat 25/1) malam. Oleh karena itu, ia mengatakan, ikan menjadi komoditas penting dalam mempersiapkan perang ini, baik itu ikan hasil tangkapan laut atau perairan lainnya maupun hasil budidaya.

“Kalau kita mau menjadi bangsa besar yang mampu bersaing di era globalisasi yang sudah tak ada sekat dan batasan, sudah tidak ada garis demarkasi lagi antara people movement, business movement, dan technology, maka konsumsi makanan orang Indonesia harus berkualias,” tutur Susi.

Meskipun zaman berubah dan teknologi terus berkembang, ikan akan terus dibutuhkan sebagai bahan makanan. Betapa dunia berubah sangat banyak, bergerak sangat cepat, tapi basic manusia membutuhkan pangan tidak akan pernah berubah.

"Kita perlu makan, kita perlu kenyang. Intelegensi manusia juga makin luar biasa. Level peningkatan kapasitas, kapabilitas, dan intelektual juga berkembang sangat cepat,” urainya. Bahan konsumsi yang baik seperti halnya ikan sangat berperan dalam pembentukan manusia yang berkualitas.

“Konsumsi makan orang Indonesia harus berkualitas. Bukan sekadar beras, jagung, karbo… karbo… karbo... We need more than just carbohydrate. Sesuatu yang dapat meningkatkan kapasitas intelektual dan intelegensi kita, yaitu protein dan omega. Dan itu ada di ikan,” ungkap dia.

Melansir data World Health and Seafood Congress, dalam 100 gram ikan terdapat 210 Omega 3 yang baik bagi perkembangan mata, otak, dan jaringan syaraf lainnya.

Kata Susi, ikan menjadi pilihan sumber protein hewani yang lebih baik dibandingkan daging. Selain harganya jauh lebih murah dan terjangkau oleh seluruh kalangan masyarakat, ikan juga tidak mengandung trigliserida dan lemak jahat seperti halnya yang terdapat pada daging.

Karenanya ia mengharapkan ikan dijadikan substitusi suplemen untuk rakyat. Dia ingin ikan menjadi sebuah makanan wajib di setiap rumah. Institusi pendidikan bisa dibangun. Namun, jika IQ sebagai raw material pembangunan manusianya buruk, maka fasilitas pendidikan yang baik tidak dapat banyak membantu.

Oleh karena itu, masyarakat harus mengonsumsi makanan yang dapat membantu pengembangan kapasitas otak. Hal ini penting untuk menciptakan generasi bangsa yang lebih aktif, gesit, dan cepat dengan skill, motorik, dan generik yang mumpuni.

Senada dengan hal ini, KKP terus mengampanyekan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan).

Tujuannya, mendorong angka konsumsi ikan di masyarakat yang masih tergolong rendah. Tahun 2019 ini, KKP menargetkan peningkatan angka konsumsi ikan nasional menjadi 54,46 kg per kapita, lebih besar dibandingkan target tahun lalu sebesar 50,65 kg per kapita yang terealisasi sebesar 50,69 kg per kapita.

Menyadari kebutuhan Indonesia terhadap produk perikanan, Menteri Susi mengimbau masyarakat untuk mencintai dan melestarikan laut yang menjadi habitatnya. “Jangan rusak dan cemari laut karena di sanalah sumber makanan kita dan masa depan bangsa kita,” tutupnya. (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua