menu
search

Dua Menteri Hadiri Pembukaan Starbucks Terbesar se-Asia Tenggara di Bali

Minggu, 13 Januari 2019 : 14.00
Menkominfo Rudiantara dan Mendes PDTT Eko Putro Sandjojo menghadiri pembukaan Starbucks Dewata di Kuta
Badung- Menkominfo  Rudiantara dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo menghadiri pembukaan Starbucks Starbucks Coffee Sanctuary yang merupakan gerai terbesar Starbucks di Asia Tenggara.

CEO of Starbucks Kevin Johnson, Director of PT Sari Coffee Indonesia (Starbucks Indonesia) Anthony Cottan dan John Culver, Group President, International, Channel Development and Global Coffee & Tea langsung menghadiri peresmian gerai dengan konsep cukup unik dan menarik itu.

CEO of Starbucks Kevin Johnson menuturkan, pihaknya mulai memakai kopi Indonesia sejak lebih dari empat dekade lalu.

"Kami selalu terkesan oleh rasa kebersamaan dan ketelitian terhadap setiap tahap pemrosesan kopi,” ujar Kevin saat peresmian Starbucks Dewata, di Jalan Suneset Road, Kuta, Badung Sabtu (12/1/2019).

Berdiri di atas lahan seluas 3.500 meter persegi, menjadikan Starbucks dengan konsep ‘Starbucks Reserve’ terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara itu sekaligus menjadi gerai starbucks terbesar kedua di dunia.

Hadirnya Starbucks Coffee Sanctuary di Bali, tak lain sebagai bentuk kecintaan Starbucks terhadap coffee journey.

"Komitmen kami terhadap budaya kopi Indonesia yang kaya, dan usaha kami untuk terus menciptakan momen-momen yang menghubungkan mitra dan pelanggan kami," sambung Kevin.

The coffee sanctuary merupakan gerai Starbucks Reserve Bar yang ke-10 di Indonesia, yang merupakan salah satu dari 185 gerai terbaik di dunia, dengan gerai terbanyak berada di Asia. Inilah puncak Starbucks, dan kami sangat bangga dapat memperkenalkan pengalaman menarik ini di salah satu pasar paling dinamis di kawasan Asia Tenggara,” jelasnya.

Kekhususan Gerai Starbucks Dewata ini, menitikebaratkan pada craftmanship dan culture sekaligus menyajikan kopi premium dalam pengalaman yang tiada duanya.

Karenanya,  gerai menjadi ”arigin-centered version” tempat raasteries, yang memanjakan kelima pancaindra.

Para pengunjung bisa melihat langsung bagaimana perkebunan kopi Arabika hingga proses panen dan produksi kopi Arabica berkualitas tinggi itu.

Mereka diajak berkeliling ke stand-stand seperti mulai pengupasan dan pencucian biji kopi pada musim panen, menjemur biji kopi hijau, mengunjungi pusat pembibitan kopi, lalu masuk ke gerai dengan desain yang terinspirasi budaya dan kerajinan Bali dan seni Indonesia.

Selain itu, pengunjung dimanjakan dengan pilihan lebih dari 100 jenis makan, merchandise hingga handcrafted beverages.

Menkominfo Rudiantara dan Mendes PDTT Eko PutroSandjojo
Dalam kesempatan itu, Menkominfo Rudiantara mengatakan, hadirnya Starbucks di Bali, memberikan pengalaman (experience), lifestyle. Sementara di tempat lain, mereka bekerja sambil  ngopi sementara di tempat ini, ngopi sembari makan siang.

Di Indonesia, minum kopi juga memiliki keterkaitan erat dengan kebiasaan atau budaya suatu tempat seperti di Aceh dan daerah lain yang dikenal dengan obrolan warung kopi.

"Makanya muncul obrolan warung kopi, yang substansinya tidak setrategis-strategis amat,  ya namanya obrolan warung kopi," sambungnya.

Jadi, lanjut Rudianatra, di warung kopi itu, menjadi tempat masyarakat terhubung, ngumpul terutama bagi masyarakat tradisional.

"Sekarang ini di Starbucks, ngumpul juga masyarakat modern, diantaranya kaum milenial, mereka ini kan datangnya bukan di warung kopi yang orang datang pakai sarung, duduk kakinya dilipat begitu, tetapi datang ke tempat seperti Starbuks," imbuhnya.  (rhm)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua