menu
search

127 Warga Terpapar, Kota Kupang Nyatakan KLB DBD

Kamis, 24 Januari 2019 : 13.58
Petugas kesehatan sedang menyediakan bubuk abate yg akan dibagikan kepada warga secara cuma-cuma untuk ditabur di setiap tempat penampungan air/istimewa
KUPANG - Pemerintah Kota Kupang telah menyatakan status Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD) yang mulai mulai mewabah dan menyerang ratusan warga di Ibu Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Data terakhir dilansir pihak otoritas setempat, Hingga Kamis (24/1/2019). tercatat 127 warga terpapar virus penyakit yang disebar oleh nyamuk Aedes Aegypti. Untuk upaya penanggulangannya, Pemerintah Kota Kupang lalu menetapkan status menjadi kejadian luar biasa (KLB).

"Ya, Bapak Wali Kota sudah tetapkan status DBD di daerah ini sebagai KLB sejak Rabu 23 Januari 2019 kemarin," kata Kepala Bidang Penanggulangan dan Pengamatan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Kupang Sri Wahyuningsih kepada wartawan di Kupang.

Berbagai upaya dilakukan seiring penetapan status DBD menjadi KLB. Langkah itu antara lain, penyelidikan epidemiologi kasus, pembagian bubuk abate untuk ditabur di tempat penampungan air yang berjentik serta melakukan foging fokus.

Dinas Kesehatan Kota Kupang juga membuka posko 24 jam di 11 Puskesmas yang tersebar di 6 kecamatn dan 51 kelurahan daerah itu. "Posko 24 jam itu akan siap melayani dan menolong warga yang diduga terkena DBD untuk segera mendapatkan perawatan medis agar tidak menjadi parah," katanya menegaskan.

Selain itu, koordinasi semua rumah sakit, juga dilakukan dalam pelayanan sekaligus pencatatan jumlah pasien DBD. Ada 12 rumah sakit di kota Kupanh yang menjadi pintu masuk layanan dan juga sumber data pemerintah untuk selanjutnya akan dilakukan penyelidikan epidemiologi.

Disinggung soal ketersediaan obat-obatan, Wahyuningsih memastikan mengaku cukup tersedia dan siap disuplai ke setiap puskesmas dan puskesmas pembantu. Pihaknya menghimbau masyarakat, tetap menjaga lingkungan tempat tinggal agar tetap bersih dan tidak menjadi sarang pengembang biakan jentik nyamuk, serta terus melakukan aksi 3M plus.

"Penyakit ini berbasis lingkungan dan karena itu kita berharap masyarakat untuk bisa menjaga lingkungan tempat tinggal agar selalu bersih," demikian Wahyuningsih. (arh)
Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua