menu
search

Sejak Tahun 2015, BI Terus Dorong Pengembangan Pasar Repo Domestik

Sabtu, 15 Desember 2018 : 02.00
GIANYAR - Bank Indonesia terus mendorong pendalaman pasar keuangan melalui pengembangan transaksi keuangan antara lain pada segmen transaksi repo. Inisiatif yang digulirkan sejak 2015 ini bertujuan mendorong semakin efektifnya intermediasi kebijakan moneter yang saat ini mengacu pada suku bunga kebijakan BI 7-Day Repo Rate ke pasar repo domestik.

Di sisi lain, pengembangan pasar repo juga diharapkan mendorong terjaganya stabilitas sistem keuangan karena sifat transaksinya yang relatif labih aman. Transaksi repo sendiri adalah transaksi pinjam-meminjam likuiditas antar lembaga keuangan, termasuk perbankan, yang dilakukan dengan jaminan (collateralized) sesuai kesepakatan kedua belah pihak.

Transaksi pinjam-meminjam ini berbeda dengan transaksi pasar uang antarbank (PUAB) yang tidak menggunakan jaminan, sehingga relatif lebih aman. Bagi lembaga keuangan, transaksi repo dapat dijadikan sarana diversifikasi portfolio, alternatif pemenuhan dana jangka pendek, serta mendorong pendalaman pasar obligasi.

Saat ini, walaupun telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir kondisi pasar repo domestik masih perlu ditingkatkan baik secara volume maupun pelakunya.

"Salah satu faktor yang menjadi hambatan berkembangnya pasar repo domestik adalah pemahaman yang tidak merata dari para pelaku mengenai mekanisme operasional transaksi repo, mulai dari proses pelaksanaan transaksi," jelas Asisten Direktur Divisi Kredibilitas dan Informasi Pasar Keuangan, Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Yan Haikal dalam siaran persnya, Jumat (14/12/2018).

Kemudian, mitigasi risiko sampai dengan penyelesaian dan pembukuan transaksi, standarisasi pasar repo, serta pemahaman terhadap kontrak General Master Repurchase Agreement (GMRA) Indonesia yang menjadi dasar kontrak pelaksanaan transaksi repo.

Merespons hal ini, Bank Indonesia secara berkelanjutan melaksanakan capacity building kepada pelaku pasar mengenai mekanisme operasional transaksi repo. Salah satu fokus dalam capacity building tersebut adalah Bank Pembangunan Daerah (BPD).

Pada semester 1 tahun 2018, Bank Indonesia telah melakukan capacity building pada BPD wilayah barat Indonesia yang selanjutnya juga akan diikuti kepada BPD wilayah tengah dan timur Indonesia.

Berangkat dari hal tersebut, dipenghujung tahun, tepatnya pada tanggal 13-14 Desember 2018 di Bali, Departemen Pengembangan Pasar Keuangan (DPPK) Bank Indonesia dengan dukungan Kantor Perwakilan Dalam Negeri (KPwDN) Bank Indonesia Bali mengadakan kegiatan Workshop Mekanisme Operasional Transaksi Repo kepada BPD wilayah tengah dan timur.

Acara dihadiri perwakilan Direktorat Pengelolaan Kas Negara - Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan Direktorat Evaluasi, Akuntansi, dan Settlement - Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan RI.

Narasumber dalam workshop ini adalah pejabat dari Bank Indonesia, Bank Mandiri, BCA, BPD DKI, HIMDASUN dan narasumber dari Bank Muamalat yang khusus menyampaikan materi tentang repo syariah.

"Melalui workshop ini diharapkan pewakilan BPD di wilayah tengah dan timur memiliki pemahaman dan keterampilan yang lebih baik dalam melakukan transaksi repo karena telah dibekali dengan seluruh aspek terkait mekanisme operasional transaksi repo," imbuh Haikal.

Selanjutnya diharapkan pendalaman pasar repo semakin baik sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan stabilitas sistem keuangan. (rhm)

Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua