Muslimat NU Desak Penghapusan Iklan SKM sebagai Susu

Selasa, 04 Desember 2018 : 08.13
SURABAYA - Pengurus Pusat Muslimat NU dan PW Muslimat NU Surabaya meminta iklan SKM yang menyebutkan sebagai susu dan disajikan sebagai minuman tunggal agar dihapuskan baik di media massa maupun tayangan di televisi.

BPOM diminta tegas menindak produsen SKM yang terus-menurus mengiklankan SKM sebagai susu. Rekomendasi itulah yang mengemuka dalam diskusi "Membangun Generasi Emas Indonesia 2045, Bijak menggunakan SKM." di SMA Khadijah, Surabaya pada Minggu, 2 Desember 2019.

Diskusi digelar oleh YAICI bekerja sama dengan Muslimat NU.

"Iklan SKM sebagai susu sudah mengelabui kita puluhan tahun, saatnya iklan itu dihapuskan. BPOM juga harus tegas menindak produsen yang melecehkan aturan," kata Ketua PW Muslimat NU Jawa Timur Masruroh Wahid di hadapan 200 anggota Muslimat NU Surabaya.

Pihaknya mempertanyakan, kenapa hingga kini produsen SKM terang-terangan mengiklankan SKM sebagai susu. Padahal sudah ada aturan yang jelas dari BPOM bahwa produk ini tidak cocok untuk bayi di bawah 12 tahun, bukan pengganti ASI dan bukan satu-satunya sumber gizi.

"Kalau produsen berani beriklan tidak jujur, tidak sesuai dengan peruntukan berarti ada yang salah dengan kebijakan," kata Masruroh.

Ahli Madya Pengawas Farmasi dan Makanan BPOM Provinsi Jawa Timur Yuli Ekowati mengatakan, adalah tugas ibu-ibu melaporkan ke badan POM jika ada produsen yang tidak mengikuti aturan sehingga BPOM bisa menindak.

Soal apakah iklan SKM bisa dihabiskan, Yuli balik bertanya, bagaimana cara menghapuskannya? Ibu-ibu Muslimat nyeletuk ,"MatikanTV." "Ya saya setuju, yg paling efektif adalah ibu-ibu tidak menonton TV," ujarnya.

BPOM, kata Yuli, tidak punya dana untuk membuat iklan karena biayanya mahal. Karena itu dibutuhkan bantuan masyarakat, khususnya ibu-ibu Muslimat untuk membantu menyampaikan informasi tentang SkM bukan susu kepada jemaah di wilayah masing-masing.

Sementara itu, Ketua YAICI (Harian Yayasan Abhiparaya Insan Cendikia Indonesia) Arif Hidayat menyatakan, iIklan SKM sebagai susu sudah ada sejak hampir seabad silam. "Itu tertanam kuat di benak masyarakat Indonesia sebagai susu bernutrisi," ujar Arif.

Padahal, lanjut Arif, kandungan SKM yang diproduksi di Indonesia protein 2,3% lebih rendah dari ketentuan BPOM 6,5 persen, dan ketentuan WHO 6,9 %. Begitupun kandungan gula lebih tinggi yakni diatas 50%, padahal WHO mensyaratkan 20 persen.

"Jadi kalau minum SKM, bukan minum susu, tapi minum gula rasa susu," ujar Arif. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Kohar Hari Santoso menyatakan, saat ini bukan hanya gizi buruk yang sedang di hadapi di Indonesia, melainkan gizi ganda.

Lebih banyak penyakit tidak menular daripada penyakit menular. Penyakit tidak menular seperti diabetes, jantung, stroke dan obesitas. Penyakit tidak menulat disebabkan karena salah pola konsumsi dan gaya hidup tidak sehat.

"Saya mengapresiasi kegiatan sosialisasi SkM bukan susu, karena ini sangat penting agar masyarakat bisa teredukasi," imbuh Kohar. (des)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi