menu
search

Ingin Kritik Berbasis Data, Presiden Jokowi Tak Tutupi Kekurangan

Selasa, 11 Desember 2018 : 00.00
Presiden Jokowi/foto:biro pers setpres
Jakarta- Presiden Joko Widodo menegaskan tidak ingin menutupi kekurangan namun berharap agar kritikan masukan yang disampaiakan berbasis data bukan pembodohan atau kebohongan publik.

Karena itu, dia mengapresiasi gerakan di media sosial dengan tagar #IndonesiaBicaraBaik yang diinisiasi oleh Persatuan Hubungan Masyarakat (Perhumas) Indonesia.

Gerakan sosial yang secara konsisten disuarakan Perhumas Indonesia sejak tahun lalu itu sejalan dengan ajakan Presiden yang mengajak seluruh pihak untuk hijrah dari pesimisme menuju optimisme.

Hal itu disampaikan Presiden saat membuka Konvensi Nasional Humas 4.0 di Istana Negara, Jakarta, pada Senin, 10 Desember 2018.

"Saya sangat setuju dengan gerakan Indonesia Bicara Baik. Ini sebuah ajakan untuk hijrah dari pesimisme menuju optimisme.

"Ajakan hijrah dari semangat negatif ke positif, dari hoaks ke fakta, dari kemarahan ke kesabaran, dari hal yang buruk-buruk ke yang baik-baik, serta hijrah dari ketertinggalan menuju kemajuan," ucapnya.

Gerakan sosial itu dirasa tepat dilakukan di tengah melubernya konten-konten negatif, provokatif, dan kabar bohong yang akhir-akhir ini sering kita lihat.

Presiden menyebut, informasi-informasi negatif tersebut terkadang memang sengaja disebar untuk membangkitkan rasa takut dan pesimistis.

Menghadapi hal itu memang tidak cukup dengan regulasi dan penegakan hukum. Diperlukan literasi digital sehingga masyarakat tidak hanya mampu menggunakan teknologi informasi, tetapi juga mampu memilih dan memilah informasi.

"Bicara baik dalam gerakan tersebut tak berarti menutupi kekurangan-kekurangan yang ada. Sebaliknya, Indonesia membutuhkan kritik yang membangun untuk dapat memperbaiki dan memajukan diri," tegas dia.

Kalau mau Indonesia baik, kalau mau Indonesia maju, kita membutuhkan kritik berbasis data, tetapi bukan pembodohan atau kebohongan. Kritik yang mencerdaskan, tapi bukan narasi yang menebar pesimisme dan menakut-nakuti.

Dia mengajak para praktisi kehumasan, baik di jajaran swasta maupun pemerintahan, untuk menjadi agen perubahan. Ia juga meminta agar insan humas Indonesia tetap konsisten dalam menebarkan optimisme di tengah masyarakat.

"Marilah kita tetap menebarkan optimisme, terus bicara narasi-narasi yang mencerdaskan bangsa, menyampaikan narasi yang selalu menginspirasi, dan saling berkolaborasi sehingga reputasi kita semakin terhormat dan bermartabat," tutupnya. (rhm)


Rekomendasi

Berita Terbaru

Lihat Semua