Tantangan Kesehatan Kian Berat, IAKMI Bali Terus Mantapkan Konsolidasi Kepengurusan

Sabtu, 24 November 2018 : 22.07
Kadis Kesehatan Bali Ketut Suarjaya (tengah) dan Ketua Pengda IAKMI Bali Made Kerta Duana (dua dari kiri) usai pelantikan pengda dan pengcab IAKMI se-Bali di Kantor Gubernuran, Renon, Denpasar
DENPASAR - Dalam menjawab tantangan masalah ke depan yang kian berat Pengurus Daerah Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Bali terus melakukan konsolidasi dengan membentuk kepengurusan hingga ke kabupaten dan kota.

Hal itu disampaikan Ketua Pengda IAKMI Bali MAde Kerta Duana yang kembali memimpin untuk periode kedua 2018-2021. Duana dilantik Ketua Umum IAKMI Ridwan Mochtar Toha bersama para pengurus cabang se- Bali di Kantor Gubernur Bali, Renon, Denpasar, Sabtu (24/11/2018).

Saat ini, sudah terbentuk kepengurusan cabang di tujuh kabupaten dan kota yakni Kota Denpasar, Badung, Tabanan, Buleleng, Gianyar, Klungkung dan Bangli. Dua kabupaten lainnya, Karangasem dan Jembrana, karena masalah kominikasi dan mepetnya waktu belum bisa dibentuk kepengurusannya.

"Dalam waktu dekat kami akan bentuk Pengda di Karangasem dan Jembrana," tegas akademisi Universitas Udayana itu.

DIakui Duana, lahirnya pengurus cabang dan daerah di Bali, karena terkait dengan meningkatnya tuntutan dan tugas serta tanggungjawab sebagai organisasi profesi dalam menghadapi tantangan masalah kesehatan masyarakat yang kian kompleks.

Untuk itu, secara keorganisasian, IAKMI membantu anggota dalam hal mendapatkan izin tugas atau kerja, uji kompetensi dan lainnya terkait profesi. Tentunya, keberadaan kepengurusan hingga tingkat kabupaten dan kota, akan bisa lebih mudah melayani anggota terutama kebutuhan mereka akan profesi.

Peran profesi atau organisasi IAKMI, ke depan dituntut lebih optimal seperti dalam membangun sinergi dengan pengambil kebijakan pemerintah,

IAKMI akan berperan dan terus membangun kerja sama seperti telah ditunjukkan dengan penandatanganan MoU dengan Dinas Kesehatan sebagai mitra peringatan HAru Kesehatan Nasional (HKN). Dengan demikian, ada saling tanggubgjawab dalam upaya-upaya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.

Diakui Duana, banyak tantangan terjadi di Bali selain itu jaminan kesehatan BPJS, imuniasi, pengendalian rokok dan isu lainnya. Juga, tantangan internal dalam konsolidasi anggota atau pengurus bagaimana bisa aktif dalam berbagai kegiatan dan organisasi.

"Ini menjadi pekerjaan rumah dan akan terus kami maksimalkan, adanya pengurus cabang akan lebih memudahkan koordinasi dan singeri ke depan dalam menjawab tantangan masalah kesehatan masyarakat".

Yang membanggakan, saat memberikan pidatonya pada pengukuhan Pengurus Daerah dan Cabang, Ketua Umum IAKMI Ridwa Mochtar Toha, bahwa kepengurusan IAKMI tiga tahun terakhir termasuk terbaik di Indonesia. IAKMI Bali dinilai responsif terhadap isu-isu penting publik seperti pengendalian rokok dan imuniasi.

Menanggapi hal itu, Duana menegaskan, isu pengendalian rokok yang telah menjadi isu nasional menjadi perhatian serius jajarannya lewat berbagai upaya promosi dan pencegagan.

Syukurnya, berkat komitmen kuat itu, IAKMI Bali kerap menjadi rujukan dari daerah lainnya di Tanah AIr yang melakukan studi banding. Isu-isu penting cukup banyak yang mesti djawab oleh IAKMI Bali seperti rabies dan bagaiman meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Dalam kesempatan sama, Kadis Kesehatan Provinsi Bali I Ketut Suarjaya meminta IAKMI agar terus bersinergi dan meningkatkan promosi dan pencegahan.

"Artinya, IAKMI berbicaranya di hulu, menjaga orang sehat tetap sehat, itu sejalan dengan program pembangunan kesehatan kita, pilar utama, paradigma sehat, yakni menjaga orang sehat tetap sehat," tuturnya.

Paradigma itu memiliki arti bagaimana upaya promotif dan preventif itu menjadi utama dan harus menjadi fungsi utama IAKMI, dalam meningkatkan kesehatan masyarakat di tengah perkembangan globalisasi. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi