Mengenal Guru Besar YM Rinpoche, Rela Mati Ketimbang Membunuh Makluk Hidup

Selasa, 06 November 2018 : 07.36
YM Passang Rinpoche dalam sebuah kesempatan bertemu umat/ foto: istimewa
DENPASAR - Sosok Guru Besar YM Passang Rinpoche begitu dikagumi karena nilai-nilai kebenaran yang disampaikan dan keteladanannya sampai menahan lapar bahkan rela mati daripada membunuh makhluk hidup.

Ribuan orang diperkirakan akan ikut kegiatan upacara "Chau Tu" dan "Yen Kung" di Vihara Satya Dharma, Benoa, Denpasar pada Sabtu (10/11/2018) mendatang. Kegiatan Chau Tu ini merupakan upacara pelimpahan jasa, sebagai perwujudan cinta kasih kepada para leluhur, orang tua, dan almarhum keluarga yang sudah meninggal.

Dilansir dari rilis yang diterima Kabarnusa.com, diketahui Passang Rinpoche lahir pada Tahun Kambing Bumi 1979 di Desa Gangtsar, daerah Kandze, Provinsi Sichuan, pagi hari jam sembilan.

Sesaat setelah itu, Khandro Tare Lhamo, Makor Khandro dan Dzogchen Yogi Acho Rinpoche dan beberapa guru besar lainnya mendatangi dan mengenali beliau sebagai reinkarnasi dari Dzongchen Yogi Yeshe tendzin Rinpoche.

"Rinpoche" secara literal berarti yanga bernilai tinggi atau yang mulia, dan dapat berarti juga permata yang berharga. Dalam Buddhisme Tibetan, istilah ini umumnya merujuk kepada para guru yang sangat terhormat atau mulia, kepada mereka yang dikenali sebagai reinkarnasi dari para guru agung.

Kabar kelahiran dan berita luar biasa ini disimpan para guru besar dan keluarga Rinpoche agar kehidupan masa kecilnya, tidak terganggu oleh pengaruh dan kondisi dari lingkungan.

Pada umur enam tahun, keempat Guru Besar dan Lama menjemput Passang Rinpoche untuk tinggal di Vihara Gongtar Monastery (kini berjumlah 400 san Bikkhu dan Bikkhuni) dan memulai semua ajaran Buddha Dharma dasar kepadanya.

Sesudah beberapa hari di tempat asing tersebut Rinpoche kecil mulai sangat merindukan orang tua dan keluarganya.

Setiap hari Rinpoche kecil menangis dan minta pulang, akan tetapi para guru tersebut mulai membujuk dengan cara halus sampai dengan hukuman agar Rinpoche mengerti bahwa ia bukan milik keluarganya lagi akan tetapi merupakan milik vihara.

Ketika guru besar tersebut memberi hukuman, Rinpoche masih sangat ingat bahwa para guru akan bersujud, minta maaf dan dengan wajah yang sangat terluka, dengan meninggikan suara dan mengambil ranting kecil untuk menakuti Rinpoche agar jangan menangis dan memulai hari-hari dengan belajar melafalkan mantra dengan cara lisan dan tulisan.

Rinpoche mengatakan selama dua tahun berada di vihara para guru besar tersebut mengajarkan tentang disiplin, mandiri, tanggung jawab dan tugas-tugas seorang Rinpoche. Juga soal disiplin, mandiri, tanggung-jawab dan tugas-tugas seorang Rinpoche ketika harus mulai sebagai kepala vihara dan memimpin upacara vihara.

Ia diharuskan duduk diam, tidak boleh tertidur dan mendengar ketika upacara di vihara, Rinpoche diharuskan duduk di kursi paling depan dan paling tinggi, banyak sekali lama akan memberikannya gula-gula, akan tetapi saat itu beliau masih sangat kecil dan sangat tidak suka kalau ada upacara.

Pada umur 6 tahun, Rinpoche mengambil sila dan janji Upasaka. Pada usia 8 tahun rinpoche di antar ke institut Buddhist Sertar Larung Five Discipline (sekolah Buddhist terbesar di dunia) dan mengambil ordinasi kebhikkhu-an dari Neten Gador Rinpoche dan memilih Raja Dharma (Fak Wang) Khenchen Jigme Puntsok Rinpoche sebagai guru utamanya.

Sejak lahir Rinpoche sudah menunjukan banyak tanda-tanda yang luar biasa, tidak seperti anak-anak lainnya, usahanya dalam belajar, menulis dan menghafal hanya membutuhkan usaha yang sangat sedikit, terbukti pada umur 13 tahun rinpoche memenangkan debat yang di ikutin oleh 400 murid lain dalam vihara yang lebih senior dalam faktor usia.

Pada tahun 2003 dia meninggalkan vihara yang telah dia tinggali selama 16 tahun untuk mulai membabarkan dharma. Di awali dengan berkunjung ke negara nepal - india - Singapore - Malaysia - China dan Indonesia. Selama 16 tahun belajar di institut, ia mempelajari tripitaka (sutta,vinaya dan abhidharma).

Mendalami 5 sutra (Madhyamaka, Prajna Paramita, Logic, Vinaya dan abhidhamma), 4 kelas dalam tantra (kriya tantra, charya tantra, yoga tantra dan anuttara yoga tantra), dan intisari ajaran Dzongchen (great perfection) juga mempelajari lima bidang studi yaitu grammar, logic, engineering, medicine dan buddhism di bawah ajaran para Khenpo dan para guru besar lainnya.

Pada tahun 2003 terjadi gejolak politik dan tekanan dari pemerintah untuk mempersempit ajaran Buddhis di sekolah tersebut, karena adanya ketidakpercayaan dan curiga pemerintah terhadap Institut Sertar Larung, karena perkembangan universitas tersebut dalam sepuluh tahun terakhir sangat luar biasa, dari murid yang berjumlah 3000 orang berkembang mendekati 20.000 Bikkhu & Bikkhuni (sekarang sudah 40.000), dari sebuah vihara kecil menjadi sebuah sekolah Buddhis terbesar di dunia yang terdiri para Bikkhu dan Biksuni.

Saat itu tahun 2003 atas pesan gurunya, dia meninggalkan Serta Larung untuk pergi berjiarah menuju India, ke situs-situs Buddha, dan mulai menyebarkan Buddha Dharma. Setelah sempat ke India, Singapura, dan Malaysia, YM Passang Rinpoche akhirnya tiba di Indonesia, yakni kota Jakarta. Pertama ke Indonesia yaitu ke kota Jakarta.

Dalam tradisi Sertar Larung, sejak seorang anak dilahirkan maka akan diramalkan kehidupan mereka selama menjalani kehidupan sepanjang hidupannya. Apa saja prestasi dan mungkin masalah-masalah berat yang akan dihadapi.

Ia melakukan banyak perjalanan serta mengunjungi berbagai tempat dan daerah untuk membabarkan Dharma bagi murid-muridnya dan untuk semua makhluk. Banyak sekali dari ajaran Passang Rinpoche yang menitikberatkan pada praktik dan ajaran Bodhicitta.

Bodhicitta berakar sangat kuat dalam diri Rinpoche sejak masa remajanya. Suatu ketika sewaktu Rinpoche masih berumur 17 tahun. Saat itu dia kebetulan berada di luar vihara dan sedang bermain, tiba-tiba dia melihat seorang pelayan sebuah rumah makan sedang memotong ayam untuk dihidangkan bagi para tamunya.

Dengan rasa terkejut yang sangat luar biasa, saat itu juga Rinpoche merasakan kesakitan dan penderitaan yang dirasakan oleh hewan tersebut. Sejak saat itu Rinpoche bersumpah untuk tidak mengkonsumsi daging dan memilih menjadi vegetarian seumur hidupnya.

Rinpoche berikrar akan menahan lapar sampai mati daripada memilih membunuh makhluk hidup. Semoga semua ajaran Passang Rinpoche bisa membebaskan penderitaan dari semua makhluk dan dapat memberikan kebahagiaan tertinggi untuk semua makhluk.

Melihat ketokohan Rinpoche, membuatnya begitu dikagumi umat Buddha di berbagai negara sehingga Ketua acara, Anny Go meyakinkan acara nya bakal dihadiri ribuan warga sebagaimana disampaikan kepada wartawan di Denpasar, Bali (4/11/2018).

Kegitan ini digelar oleh Flourishing Buddhist Centre (FBC) bekerja sama dengan Vihara Satya Dharma, Benoa Denpasar. Acara Chau Tu dan Yen Kung akan dimulai pada pukul 18.00, dan registrasi mulai dibuka pukul 14.00 hingga 17.00 WITA.

"Target awal kami 1000 orang peserta, namun kami perkirakan warga yang akan hadir dalam kegiatan upacara ini antara 2000 hingga 3000 orang peserta," ujar Anny. Kegiatan bertajuk "Dhamma Talk, Chau Tu dan Yen Kung" ini dipimpin langsung Guru Besar Umat Budha, Yang Mulia Passang Rinpoche. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi