Mantan Menteri ESDM: Pembangunan Sektor Energi Jalan di Tempat

Jumat, 16 November 2018 : 17.27
JAKARTA - Empat tahun terakhir pembangunan energi di Indonesia masih mengalami stagnasi alias jalan di tempat. "Tidak ada kemajuan berarti, hanya sekedar menjalankan rutinitas," tutur Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) periode 2014-2016 Sudirman Said dalam diskusi yang digelar Indonesian Energy Economic Forum di Jakarta, Jumat (16/11/2018).

Menurutnya, inestasi menurun drastis, kebijakan tidak konsisten, dan sangat berorientasi jangka pendek. Menurut Sudirman, kondisi tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar pembangunan energi yang padat modal, padat teknokogi, dan memerlukan konsistensi kebijakan jangka panjang.

"Kita harus mengatakan pemerintah saat ini tidak menjalankan dengan sungguh-sungguh disain dan Perundang-Undangan di bidang energi," kata Ketua Materi Debat dan Kampanye Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.

Dia menjelaskan, amanat untuk memprioritaskan pemanfaatan energi baru dan terbarukan tidak dijalankan. Kebijakan di Kementerian ESDM maupun PLN sama sekali tidak berpihak pada pengembangan _renewables energy_ (energi baru dan terbarukan).

Lanjut dia, Kegawatan sektor energi ini, harus dipahami dan menjadi perhatian dari pimpinan tertinggi negara, agar seluruh produk kebijakan konsisten dengan arah pembangunan sektor tersebut.

Tingginya turn over (pergantian) para pimpinan puncak di sektor energi adalah sinyal Paling mudah ditangkap dari tidak dikelolanya energi sesuai dengan prinsip-prinsip dasarnya. Disebutkan, dalam empat tahun Menteri ESDM berganti empat kali, Dirut Pertamina diubah lima kali, Dirut PGN (gas) berganti tiga kali.

"Tetapi menariknya Dirut PLN, yang semua orang tahu menjadi penghambat pembangunan renewables energy malah bertahan lama,” ungkapnya. Dalam pandangan Sudirman, semua sinyal ini bentuk dari ketidakseriusan pemerintah membangun energi baru terbarukan.

Dijelaskan, sesungguhnya seluruh pedoman pembangunan energi mulai dari UU Energi No. 30/2007, UU ketenagalistrikan, dan disain kebijakan pembangunan Bappenas semua mengamanatkan perlunya ngotot membangun energi baru terbarukan.

Kelebihan membangun energi baru dan terbarukan adalah sumbernya domestik dan dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak. "Ini akan berdampak amat positif bagi ekonomi yang lebih berkesinambungan," imbuh dia.

Sembari berkelakar, Sudirman mengatakan, dokumen perencanaan ketika ia menjadi menteri masih sangat relevan, bahkan untuk periode 2019- 2024. “Ini akan kita gunakan lagi, dan ini artinya selama empat tahun ini tidak ada kemajuan berarti," demikian Sudirman. (rhm)

Berita Terbaru

Saat ini 0 komentar :

Rekomendasi